IDENTIFIKASI
NASKAH KUNO
A.
IDENTIFIKASI
NASKAH KUNO di KECAMATAN RU-BARU
1.
Judul Naskah : Kitab Shona
Hubbu Tayyib (1367 H)
2.
Pengarang : Anonim
(tanpa nama)
3.
Tebal Naskah : 11
halaman
4.
Panjang Naskah : 21,5 cm
5.
Lebar Naskah : 16,2 cm
6.
Pembuka : Basmalah
7.
Penutup : Tamat
8.
Bahasa yang digunakan : Bahasa
Arab dan bahasa madura Enggi-
Bunten
yang ditulis dalam tulisan pego
9.
Terjemahan : Bahasa
Indonesia
10.
Isi Keseluruhan :
Dikarenakan pudarnya banyak tulisan,
sehingga kelompok kami tidak menterjemahkan naskah ini secara utuh. Sehingga
kami hanya menulis mengenai hal-hal pokok yang terdapat dalam naskah kuno ini.
Yakni membahas mengenai perhitungan bulan yang baik, amalan-amalan seseorang,
serta doa rokat (tasyakuran untuk buang sial).
a.
Tiga halaman pertama :
Membahas
mengenai perhitungan bulan yang baik, hal-hal yang dilakukan di bulan rajab, dan
amalan orang sakit yang ingin sembuh.
b.
Tiga halaman tengah :
Membahas
mengenai amalan orang yang membeli barang, membahas mengenai amalan orang yang
ingin naik pangkat, membahas mengenai amalan orang yang menemukan senjata,
membahas mengenai amalan orang yang pergi berlayar/jalan tetapi ingin cepat
kembali pulang, membahas mengenai amalan orang yang buruk rupa namun berhati
baik, membahas mengenai amalan orang yang berdagang menghasilkan untung atau
rugi, membahas mengenai amalan perempuan yang ingin menemukan jodohnya,
membahas mengenai amalan orang yang mencari sebuah kepastian, membahas mengenai
amalan orang yang bertamu, membahas mengenai amalan orang yang memiliki perkara
menang atau kalah, dan membahas mengenai amalan orang yang memelihara
kelanggenga atau tidak.
c.
Tiga halaman akhir :
Membahas
mengenai doa yang digunakan untuk rokat (buang sial).
11.
Warna tinta : Abu-abu
12.
Jenis Kertas : Buram
13.
Kolektor : Muhrawi
(Matana Aer, Ru-baru)
14.
Foto Naskah/fotokopi :
B.
IDENTIFIKASI
NASKAH KUNO di KECAMATAN BATUAN
1. Judul
Naskah : _________
2. Pengarang
: Anonim (tanpa nama)
3. Tebal
Naskah : 6 halaman
4. Panjang
Naskah : 20,7 cm
5. Lebar
Naskah : 16,3 cm
6. Pembuka
: Basmalah
7. Penutup
: Ditutup dengan sebuah tembang
8. Bahasa
yang digunakan : Bahasa Madura Enggi-Bunten dan bahasa Jawa
Kromo
Inggil yang ditulis dalam tulisan pego
9. Terjemahan : Bahasa Indonesia
10. Isi
Keseluruhan : Dikarenakan berisi hanya enam lembar dan
menceritakan
sebuah kisah, maka kelompok
kami
menterjemahkannya secara menyeluruh.
ΓΌ Salinan
:
Paneka asal epon
manossa Nabi Adam sareng Hawa.
Nabi Adam sareng
Hawa apottra Nabi Syis. Kadhuwa kha’dinto Adam sareng Hawa partengkaran arebbu’
ana’. Ja’ saongguna ana’ se bannya’ pottrana Nabi Adam. Hawa jugan adhabu ja’
ana’ se bannya’ dhari Hawa.
E dhalem settong
masa, kacator e Nagara Ambar. Para Rato apakompol. Asidang. Rato pas adhabu
asalla manossa paneka, Nabi Adam. Adam apottra Syis. Syis apottra Nur Cahyah.
Nur Cahyah apottra Nur Rossa. Nur Rossa apottra Nur Sajati. Nur Sajati apottra
Sangyang Ning. Sangyang Ning apottra Sangyang Tunggal. Tunggal apottra Sangyang
Guru. Sangyang Guru apottra Sangyang Paramisthi, paneka katoronan dhari Syis
-Nabi Adam.
Dineng
Paramisthi paneka mujarab sadaja cipta’anna daddi tokang tambana sadaja
lara-lara, daddi kadukonan. Dineng Paramisthi paneka andhi’ katoronan Sangyang
Punggu. Punggu apottra Diwanumar. Ngagunge katoronan Semmar sareng Camuris
*Sanyatana paneka katoronan Syis dhari Hawa se kabentu’ dhari Nabi Adam*
*Paneka kacator
carana Pandaba*
Kacator e Nagara
Amartah. Papatina dhuwa’. Settong anyama Mungkur Dalang sareng Mina’widi. Rato
pas adhabu dha’ papati se dhuwa’, “Hei patih! Bula sanonto andhi’ ana’ anyama
Darmawangsa ban anyama Bima, tello’ Arjuna, empa’ pas kembar Sakula ban Sadewa.
Aduh pati? Ja’ sakenga ana’-ana’ se kasebbut neko, pakompol dha’ karaton dhinto
manadha’agi.”
Rajjana kacator
pole e Nagara Giling Wessi badha bencana alam raja. Banjir raja. Bulan gerhana,
bintang ngokos, gunong leddu’. Rato ngompolagi dha’ sadaja para Rato laen. Pas
pareksa, ba’ badha ponapa ta’ enggi e Nagara paneka ma’ katoronan bencana alam
se sangat raja paneka? Pas settong anyama Sukrim mator dha’ Rato.
E Nagara Kuripan
ka’ dhinto. Rato ngompolagi jugan para Rato-rato. Dineng nyaman Rato Kuripan
paneka begawan pola sara, andhi ana’ anyama Badharakala. Saamponna Rato
makompol ra’yat pas Badharakala mator, “Abdina nyo’ona neddha Rama.” Rato
Kuripan pas adhabu, “iye sengko’ ngeding kabar e Nagara Wastam reya badha oreng
Pandaba gi’ ta’ e rokat, jareya kakanna ba’na.” Pati pas nyakse’e jugan badha
ja’ lerres badha onggu pandaba ta’ e rokat.
Samangken
kacator Badharakala apakeyan pas mangkat. Saamponna dhapa’ dha’ Nagara Wastam
bannya’ oreng paseser se buru. Se ta’ buru pas ekakan oreng pandaba
gapaneka. Sa abidda sabulan oreng se
pandaba ta’ ekakan, pas ngalle ka dhaunna kajuwan. Sabulan abidda jugan tadha’,
pas ngalle dha’ kole’na kaju. Sabulan tadha’ rebba tadha’ saterrossa
Badharakala ngalle dha’ laen kennengan Nagara. E dhalem parjalanan oreng atapa
nang guwa pas nangale dha’ Badharakala, reng atapa asalen roba. Terros
Badharakala ajalan.
Saamponna dha’
settong desa pas lerres tapanggi Yang Wisnu arokat pandaba sambi tembangagi
sareng Sangyang Wisnu. Badharakala pas berka’ ngakana dha’ oreng pandaba. Pas
epareksa sareng Wisnu, “Hei Badharakala ba’na ma’ berka’.” Badharakala pas
mator, “kaula saongguna ngakana oreng pandaba. Polana badha oreng nembang
gu-laggu, para’ mettowa are.”
Yang Wisnu
alarang, “ ella ja’ kakan, sengko’ nembang nyocceyana oreng pandaba. Sateya
sengko’ nembanga mara edingagi.” Badharakala mator, “Enggi manabi lerres
nembanga sampeyan nyocce’e pandaba kaula undura. Mon ta’ lerres ekakan, sareng
nembang lerres.” Samangken Badharakala undura dha’ temor kalowar alam.
-Cokop-
Artate
Ono kidung
rumekso ing wengi tekku rohayu luputo ing lara. Luputo ing bala’ he kabeh. Jin,
setan datan purun. Paneluhan tanono kari, rumaksa dining malaikat. Kinasiyan
Yang Agung. Luputenna ing wi dalan. Tuduhanna ing margo kang luwih adi, ing
dunnyo teking akhirot.
ΓΌ Terjemah
:
Inilah
asal manusia Nabi Adam dan Hawa
Nabi Adam dan Hawa dikaruniai anak bernama
Syis. Terjadi pertengkaran antara Adam dan Hawa mengenai perihal anak. Bahwa
sesungguhnya anak yang banyak itu berasal dari keturunan Nabi Adam. Hawa juga
berkata bahwa anak yang banyak berasal dari Hawa.
Dalam suatu
masa, diceritakan di Negara Ambar. Para Raja dikumpulkan. Disidang. Kemudian
Raja menjelaskan bahwa asal mula manusia itu berasal dari Nabi Adam. Adam
memiliki anak bernama Syis. Syis memiliki anak bernama Nur Cahyah. Nur Cahyah
memiliki anak bernama Nur Rossa. Nur Rossa memiliki anak bernama Nur Sajati.
Sajati memiliki anak bernama Sangyang Ning. Sangyang Ning memiliki anak bernama
Sangyang Tunggal. Tunggal memiliki anak bernama Sangyang Guru. Sangyang Guru
memiliki anak bernama Sangyang Paramisthi. , inilah silsilah dari Syis -Nabi
Adam.
Sedangkan
Paramisthi ini mujarab semua ciptaannya, menjadi tukang penyembuh segala
duka/penyakit, menjadi dukun. Dan Paramisthi ini memiliki keturunan bernama
Sangyang Punggu. Punggu memiliki anak bernama Diwanumar. Kemudian memiliki
keturunan bernama Semmar dan Camuris *Kenyataannya inilah keturunan Syis dari
Hawa yang terbentuk dari Nabi Adam*
*Ini menceritakan
tentang Pandawa*
Diceritakan di
Negara Amartah. Memiliki dua patih. Yang bernama Mungkur Dalang dan Mina’widi. Kemudian
Raja berkata pada Patihnya, “Hei patih! Saat ini saya memiliki anak bernama Darmawangsa dan Bima, yang ketiga bernama’
Arjuna, yang keempat kembar bernama Sakula dan Sadewa. Aduh patih? Jika saja
anak-anak itu, dikumpulkan di keraton ini untuk menghadap saya.”
Raja juga
menceritakan bahwa di Negara Giling
Wessi ada bencana alam yang sangat besar. Banjir besar. Bulan gerhana, bintang
berasap, gunung meletus. Kemudian Raja mengumpulkan para Raja-raja lainnya. Dan
diperiksa, apakah ada atau tidak di Negara ini terjadi bencana alam yang sangat
besar?
Dan ada satu
orang yang bernama Sukrim bercerita kepada Raja. Di Negara Kuripan ini. Raja
mengumpulkan para Raja lainnya. Dan terdapat Raja Kuripan, mempunyai anak
bernama Badharakala. Setelah Raja mengumpulkan para rakyatnya kemudian
Badharakala mengatakan, “Saya mau makan, ayah.” Raja Kuripan menjawab, “Iya
saya mendengar di Nagara Wastam ini terdapat orang Pandawa yang belum di rokat,
itulah makanan kamu.” Dan Patihnya juga menyaksikan tentang kebenaran bahwa ada
pandawa yang masih belum di rokat.
Saat ini
diceritakan bahwa Badharakala memakai pakaian kemudian berangkat. Sesampainya
di Negara Wastam banyak orang pesisir yang lari. Dan orang pandawa yang tidak
lari itu menjadi santapannya. Selama
sebulan pandwa tersebut tidaklah dimakan, kemudian beralih memakan dedaunan.
Dan sebulan kemudian telah habis, kemudian beralih memakan kulit kayu. Selama
sebulan pun tidak terdapat rumput Badharakala kemudian pindah ke lain Negara.
Dalam perjalanan terdapat seorang pertapa yang bertapa di gua dan melihat
kedatangan Badharakala, kemudian pertapa
itu berganti wajah/menyamar. Dan Badharakala terus berjalan.
Sesampainya pada
suatu desa, Badharakala bertemu Yang Wisnu yang sedang melakukan rokat pandawa seraya
menyenandungkan senandung oleh Sangyang Wisnu. Kemudian Badharakala berlari
untuk memakan pandawa itu. Dan ditegur oleh Wisnu, “Hei Badharakala kamu kok
lari.” Badharakala menjawab, “Sebenarnya saya ini mau memakan orang pandawa. Karena ada seseorang yang menyenandungkan
sebuah senandung pada pagi hari, nyaris saat matahari akan terbit.”
Yang Wisnu melarang,
“ Jangan dimakan, saya bersenandung ini untuk mensucikan orang pandawa. Sekarang
saya akan bersenandung, ayo dengarkan.” Badharakala berkata kembali, “Iya jika benar senandung itu untuk mensucikan
pandawa saya akan pamit pulang. Jika tidak, saya akan memakannya, dan ternyata
senandung itu lebih baik.” Dan Saat ini Badharakala pamit pergi keluar alam di
daerah timur.
-Cukup-
Artate
(nama salah satu tembang Madura) = konon tembang ini merupakan penggalan doa
Sunan Kalijaga.
Ada senandung
yang enak didengar di malam hari dari dalam lubuk hati semoga terhindar dari
duka. Semoga terhindar dari balak kepada semuanya. Jin, setan tidak akan
datang. Termasuk juga sihir tidak tersisa, dipelihara/dijaga oleh malaikat.
Disayang Yang Maha Agung. Semoga terhindar dari kesesatan di jalan. Semoga
tentram di rumah yang lebih baik, di dunia sampai akhirat.
11. Warna
tinta : abu-abu
12. Jenis
Kertas : buram
13. Kolektor
: Satnawi (Jl. Raya Lenteng-Batuan)
14. Foto
Naskah/fotokopi :




Tidak ada komentar:
Posting Komentar