“MENANGGAPI PERGAULAN BEBAS yang
TERJADI di SUMENEP terhadap REMAJA dibawah UMUR”
Disusun sebagai bahan tugas mata kuliah
Keterampilan Menyimak
Mahasiswa
Jurusan PBSI
STKIP PGRI
Sumenep
Tahun ajaran 2013-2014
A. 1.1 Latar Belakang
Saat ini, era telah memasuki era
globalisasi. Dimana banyaknya budaya-budaya asing yang masuk ke Negara
Indonesia. Budaya yang mengajarkan sebuah kebebasan. Budaya yang pada akhirnya
mulai merusak remaja Indonesia. Khususnya
remaja yang berkawasan di Sumenep.
Generasi muda, merupakan generasi
penerus bangsa.Yang diharapkan mampu memimpin bangsa ini dengan lebih baik.
Namun pada saat ini, pergaulan remaja telah sampai pada tingkat yang
mengkhawatirkan. Dimana mereka, para remaja lebih menyukai sebuah norma-norma
kebebasan.
Adapun dalam laporan sederhana ini, bertujuan untuk mengkaji sekilas
tentang pergaulan bebas tersebut yang didalamnya membahas tentang
penanggulangan pergaulan bebas yang kini telah marak terjadi di Sumenep
terhadap remaja dibawah umur.
Dasar penulisan
penulis ini, dari hasil wawancara sebagaimana yang telah terlampir.
1.2 Tujuan Penulisan
Saat ini, baik pihak remaja sendiri
maupun orang tua tak banyak yang mengetahui mengenai pergaulan yang salah
ataupun pergaulan yang benar. Oleh karena itu, disini penulis akan membahas
mengenai pergaulan bebas.
1.3 Sasaran Wawancara
1.
Nama :
Dr. Fatoni, M. Si
Status
nikah : Sudah menikah
Kewarganegaraan
: Indonesia
Agama
: Islam
Jabatan
: Kepala Bidang Pembinaan Kesehatan Masyarakat
Dinas
Kesehatan
Pendidikan
terakhir : S2 Master of Sience
Riwayat
pekerjaan : - PNS sejak 2000-sekarang
- Dokter
di Puskesmas Ambunten sejak 2000-2006
- Kepala
Bidang Pembinaan Kesehatan Masyarakat
Dinas
Kesehatan sejak 2006-sekarang.
2.
Nama :
Indah Farida Ratnawati, Amd. Keb
Status
nikah : Sudah menikah
Kewarganegaraan
: Indonesia
Agama
: Islam
Jabatan
: Staff anak remaja usila bid. Kesehatan Masyarakat
Pendidikan
terakhir : D3 Keperawatan
Riwayat
pekerjaan : - PNS sejak 1990-sekarang
- Staff
di kec. Nong-gunong, Sepudi dari 1990-1995
- Perawat
di Puskesmas Dungkek dari 1995-2009
- Staff
anak remaja usila bidang Kesehatan Masyarakat di Dinas Kesehatan sejak
2009-sekarang.
B. 2.1 Pengertian Remaja
Masa remaja adalah peralihan dari
masa anak-anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua
aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa. Rentang waktu usia remaja ini biasanya
dibedakan atas tiga, yaitu 12 – 15 tahun = masa remaja awal, 15 – 18 tahun =
masa remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun = masa remaja akhir.
2.2 Pengertian Pergaulan Bebas
Pergaulan bebas itu adalah salah satu bentuk
perilaku menyimpang, yang mana “bebas” yang dimaksud adalah melewati
batas-batas norma ketimuran yang ada. Masalah pergaulan bebas ini sering kita
dengar, baik di lingkungan maupun dari media massa.
2.3 Penyebab Pergaulan Bebas
Dari
data yang telah diketahui oleh Dinas Kesehatan, banyak sekali remaja yang
terjerumus pada pergaulan bebas di kawasan Sumenep ini. Dari tahun
ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas maupun menggunakan
narkoba sendiri, semakin meningkat. Kelompok remaja yang masuk ke dalam data
tersebut rata-rata berusia 17-21 tahun, dan umumnya masih bersekolah di tingkat
Sekolah Menengah Atas (SMA) atau mahasiswa.
Remaja
adalah individu labil yang emosinya rentan tidak terkontrol oleh pengendalian
diri yang benar. Kemajuan teknologi menjadi salah satu penyebab utama pergaulan
bebas yang tejadi pada remaja Sumenep. Dengan bebasnya, remaja saat ini dapat
mengakses internet dimanapun dan kapanpun.
Penyebab pergaulan bebas tiap remaja,
mungkin berbeda. Tetapi semuanya berakar dari penyebab utama. Hal tersebut
menyebabkan perilaku yang tidak terkendali, seperti pergaulan bebas &
penggunaan narkoba yang berujung kepada penyakit seperti HIV & AIDS ataupun
kematian.
Berikut ini di antara penyebab
maraknya pergaulan bebas di Sumenep :
1. Kemajuan
teknologi.
Remaja yang
serba ingin tahu, juga ingin coba-coba melakukan sesuatu dari apa yang
dilihatnya dalam situs-situs porno, maupun dari media massa dan media cetak
yang saat ini telah marak menyajikan acara-acara dan tayangan yang semakin
berani pamer aurat dan adegan-adegan yang membuat deg-degan jantung para
lelaki. Belum lagi tayangan yang menyuguhkan gambar “sekwilda”, alias sekitar wilayah dada, serta gambar “bupati”, alias buka paha tinggi-tinggi yang
dapat membuat otak remaja teracuni dengan pesan sesatnya.
2. Kurangnya
pegangan hidup remaja dalam hal keyakinan/agama
Kurangnya pendidikan agama yang diperoleh oleh remaja dari rumah, dapat
memicu pergaulan remaja yang salah. Bahkan, pendidikan agama di sekolah-sekolah
ternyata tidak menggugah kesadaran remaja untuk kritis dan inovatif. Sehingga
iman si anak kurang.
3. Sikap mental
yang tidak sehat
Sikap mental
yang tidak sehat, dan emosi remaja yang labil, membuat banyaknya remaja merasa
bangga terhadap pergaulan yang sebenarnya merupakan pergaulan yang tidak
sepantasnya. Tetapi mereka tidak memahami karena daya pemahaman mereka yang
lemah.
4. Pelampiasan
rasa kecewa
Seorang remaja mengalami tekanan
dikarenakan kekecewaannya terhadap tekanan dari orang tua,
orang tua yang kurang perhatian, beban pikiran yang dialami oleh si remaja, di
sekolah dijauhi.
5.
Kegagalan remaja menyerap norma
Hal ini disebabkan karena
norma-norma yang ada sudah tergeser oleh modernisasi yang sebenarnya adalah
westernisasi.
Pergaulan adalah salah
satu kebutuhan bagi makhluk hidup, khususnya remaja agar dapat bersosialisasi.
Namu yang terjadi justru terpengaruh pada pergaulan yang salah. Pergaulan bebas
remaja yang semakin meningkat telah menjadi tren anak muda Sumenep. Misalnya
saja , jika tidak berpacaran, tidak dapat dikatakan “keren”. Padahal masih
banyak hal-hal positif lain yang dapat dilakukan oleh para remaja Sumenep agar
dapat dikatakan “keren”.
Karena remaja yang
serba ingin tahu dan penasaran, itulah yang membuat mereka ingin meniru-niru
apa yang misalnya telah disediakan oleh situs-situs porno, karena teknologi dan
internet saat ini dapat diakses dimanapun, dan kapanpun.
Mereka, para remaja selalu berkeingin bebas atau dapat
dikatakan “happy”. Tidak ada aturan antara laki-laki dan perempuan. Dikarenakan
beban pikiran yang terus membelenggu mereka, mengakibatkan remaja ini ingin
sebuah hal yang bernama “kebebasan”. Sebenarnya, semua pergaulan bebas mereka
adalah murni kemauan remaja itu sendiri. Sebab mereka ingin bebas dari apa-apa
yang telah membelenggunya.
Dari study kesehatan, menyebutkan bahwa remaja yang
mengirim 120 kali SMS/hari akan cenderung terjerumus kepada pergaulan bebas.
Namun, pada dasarnya semua itu tergantung pada isi dalam SMS yang dikirim
tersebut. Dan semua kembali pada remaja tersebut, atas kesadaran diri mereka
sendiri.
Sebuah narasi “liar” menjelaskan bahwa pemberian
penyuluhan pendidikan seksual terhadap para remaja, dapat memicu terjadinya
pergaulan bebas. Tetapi, pada kenyataannya semua dikembalikan kepada iman daripada remaja tersebut. Dan
seharusnya pendidikan seksual diberikan sejak dini, atau sejak SD. Agar saat si
anak telah menginjak masa remaja, masa yang labil dan serba ingin tahu, si anak
tersebut dapat memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik.
2. 4 Ciri-ciri Pergaulan Bebas
Adapaun ciri-ciri remaja yang telah terpengaruh
pergaulan bebas, yaitu :
-
Penghamburan harta untuk memenuhi keinginan sex
bebasnya.
-
Upaya mendapatkan harta dan uang dengan menghalalkan
segala cara.
-
Rasa ingin tahu yang besar.
-
Rasa ingin mencoba dan merasakan.
-
Terjadi perubahan-perubahan emosi, pikiran, lingkungan
pergaulan dan tanggung jawab yang dihadapi.
-
Mudah mengalami kegelisahan, tidak sabar, emosional,
selalu ingin melawan, rasa malas, perubahan dalam keinginan, ingin menunjukkan
eksistensi dan kebanggaan diri serta selalu ingin mencoba dalam banyak hal.
-
Banyak mengalami tekanan mental dan emosi.
-
Terjerat dalam pesta hura-hura ganja, putau, ekstasi,
dan pil-pil setan lain.
2. 5 Dampak Pergaulan Bebas
Dampak
dari pergaulan bebas di kalangan remaja Sumenep ini, terdapat dampak positif,
juga dampak negatifnya. Yakni :
-
Dampak positif :
Rasa
sosial yang tinggi, kesetiakawanan, solidaritas.
-
Dampak negatif :
Dapat ketergantungan, kehilangan
kendali atas diri sendiri, bahkan yang paling fatal adalah kematian. Sehingga
dapat menjerumuskan pada seks bebas, kehamilan yang tidak diinginkan, terserang
HIV/AIDS, aborsi, dan tidak hormatnya mereka terhadap orang tua.
2. 6 Cara menanggulangi Pergaulan
Bebas
Cara menanggulangi
pergaulan bebas yang terjadi terhadap remaja Sumenep, adalah :
-
Tidak dengan tindakan yang frontal,
karena akan mengakibatkan tidak berhasilnya upaya penanggulangan tersebut.
-
Dengan membiasakan perilaku baik
terhadap remaja sejak dini.
-
Memberikan pendidikan seksual sejak anak
masih dibangku Sekolah Dasar.
-
Memberikan penyuluhan tentang kesehatan
seksual reproduksi.
-
Memberikan penyuluhan mengenai masalah
perilaku remaja, masalah kesehatan remaja secara umum, serta masalah
perkembangan remaja.
-
Memberikan penyuluhan tentang akibat
dari pergaulan bebas itu sendiri.
-
Orang tua seharusnya dapat mengikuti
perkembangan mereka, tetapi juga dapat mengendalikan pergaulan mereka.
-
Melalu pendekatan, karena remaja saat
ini lebih terbiasa kepada seseorang yang membiasakan dirinya perperilakau sama.
Mendekati si remaja agar bisa didengar. Kemudian memberikan pengetahuan akan
sisi kesehatan pergaulan yang mereka geluti.
C. KESIMPULAN
Remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak
menuju masa remaja. Dimana dikatakan remaja ini, sejak usia 12 tahun hingga 21
tahun. Remaja merupakan masa dimana seorang anak rentan akan terpengaruh pada
pergaulan yang salah. Terlebih kota kecil seperti Sumenep ini.
Maraknya pergaulan bebas yang terjadi di Sumenep,
membuat para remaja semakin sulit untuk diatur. Dalam dirinya, selalu digaung-gaungkan
akan sebuah kebebasan. Sehingga mengakibatkan dampak yang negatif juga pada
dirinya, misal tak menghormati orang tua.
Penyebab pergaulan ini, terjadi karena dengan
mudahnya para remaja ini dapat mengakses internet melalui teknologi0teknologi
canggih yang kini telah banyak berkembang, diamanapun dan kapanpun. Juga karena
masalah-masalah yang membelenggu mereka, sehingga mereka ingin meresa bebas,
tidak terkungkung.
Pergaulan remaja yang telah menjadi tren di Sumenep
ini, sebenarnya dapat dicegah dengan mengadakan penyuluhan-penyuluhan
kesehatan, misalnya mengenai pendidikan seksual dan lain sebagainya. Peran
serta orang tua disini juga sangat diharapkan agar si remaja dapat membedakan
mana yang baik baginya, dan mana yang tidak.
Lampiran
I
Lembar
Kerja
Kuisioner tentang
Pergaulan Bebas yang terjadi di Sumenep terhadap Remaja dibawah Umur
Hari/tanggal
wawancara : Senin, 19 November 2012 (09.30 WIB)
Tempat wawancara
: Dinas Kesehatan Kab. Sumenep
Jl.
Dr. Soetomo No. 04, Sumenep
Narasumber : 1. Dr. Fatoni, M. Si
2. Indah
Farida Ratnawati, Amd. Keb
· Umum
:
1.
Apa pengertian Remaja?
Peralihan
dari masa anak-anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua
aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa. Rentang waktu usia remaja, yaitu 12 –
21 tahun. Dan serba ingin tahu.
2.
Apa pengertian pergaulan bebas?
Pergaulan bebas itu adalah salah satu bentuk perilaku
menyimpang, yang mana “bebas” yang dimaksud adalah melewati batas-batas norma
ketimuran yang ada.
3.
Apa saja pergaulan bebas itu?
Narkoba, seks bebas, tawuran, dan
sebagainya.
4.
Apa penyebab pergaulan bebas tersebut?
Kemajuan teknologi, jaringan internet
yang dapat diakses dimana saja, media cetak dan media massa yang
menyuguhkan gambar “sekwilda”, alias sekitar wilayah dada, serta gambar
“bupati”, alias buka paha tinggi-tinggi.
5.
Apa ciri-ciri pergaulan bebas?
-
Penghamburan harta untuk memenuhi keinginan sex
bebasnya.
-
Upaya mendapatkan harta dan uang dengan menghalalkan
segala cara.
-
Rasa ingin tahu yang besar.
-
Rasa ingin mencoba dan merasakan.
-
Terjadi perubahan-perubahan emosi, pikiran, lingkungan
pergaulan dan tanggung jawab yang dihadapi.
-
Mudah mengalami kegelisahan, tidak sabar, emosional,
selalu ingin melawan, rasa malas, perubahan dalam keinginan, ingin menunjukkan
eksistensi dan kebanggaan diri serta selalu ingin mencoba dalam banyak hal.
-
Banyak mengalami tekanan mental dan emosi.
-
Terjerat dalam pesta hura-hura ganja, putau, ekstasi,
dan pil-pil setan lain.
6.
Apa dampak pergaulan bebas terhadap
remaja?
Pergaulan bebas bagi remaja meliputi
narkoba dan seks bebas. Dampak dari penggunaan narkoba itu sendiri adalah
ketergantungan, kehilangan kendali atas diri sendiri, bahkan yang paling fatal
adalah kematian. Sedang dampak seks bebas adalah kehamilan yang tidak
diinginkan, terserang HIV/AIDS, aborsi dan dampak negatif lainnya. Sedangkan
dampak positif pergaulan bebas bagi remaja adalah rasa sosial yang tinggi,
kesetiakawanan, solidaritas. Dampak negatif pergaulan bebas juga adalah tidak
hormatnya mereka terhadap orang tua.
7.
Bagaimana cara menanggulangi pergaulan
bebas yang kian marak itu?
Tidak dengan tindakan yang frontal,
karena akan mengakibatkan tidak berhasilnya upaya penanggulangan tersebut.
Dengan membiasakan perilaku baik terhadap remaja sejak dini. Juga memberikan
pendidikan seksual sejak anak masih dibangku Sekolah Dasar.
· Khusus
:
Masalah
kesehatan seksual reproduksi remaja, masalah perilaku remaja, masalah kesehatan
remaja secara umum, serta masalah perkembangan remaja.
1.
Apa pergaulan bebas telah menjadi tren
di kalangan remaja Sumenep saat ini?
Pergaulan remaja yang semakin meningkat
telah menjadi tren anak muda Sumenep. Misalnya, jika tidak berpacaran, tidak
dapat dikatakan “keren”.
2.
Dari study kesehatan yang penulis telah
baca, membuktikan bahwa remaja yang mengirim 120 kali SMS/hari, cenderung
terjerumus pada pergaulan bebas? Benarkah hal itu menurut pengamatan Dinas
Kesehatan Kabupaten Sumenep?
Semua itu tergantung terhadap isi SMS yang
diterima oleh si remaja.
3.
Tinggikah angka pergaulan bebas terhadap
remaja dibawah umur untuk kawasan Sumenep?
Dari data, banyak sekali remaja yang
terjerumus pada pergaulan bebas di kawasan Sumenep ini. Dari tahun ke
tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas maupun menggunakan narkoba
sendiri, semakin meningkat
4.
Apa yang mengakibatkan remaja Sumenep
menempuh pergaulan yang salah?
Ingin bebas atau dikatakan happy. Tidak ada
aturan antara laki-laki dan perempuan. Dikarenakan beban pikiran.
5.
Apa Faktor yang mempengaruhi mereka
dalam pergaulan bebas ini?
Karena tekanan orang tua, orang tua yang
kurang perhatian, beban pikiran yang dialami oleh si remaja, di sekolah
dijauhi.
6.
Apakah didalam pergaulan mereka,
didalangi oleh oknum-oknum yang menginginkan kebebasan?
Sebenarnya, semua pergaulan mereka adalah murni
kemauan sendiri. Sebab mereka ingin bebas dari apa-apa yang telah
membelenggunya.
7.
Adakah pihak-pihak tinggi, yang merespon
baik terhadap pergaulan mereka?
Dirasa,
tidak.
8.
Bagaimana cara Dinas Kesehatan ini,
untuk mengarahkan mereka agar tidak terjerumus?
Memberikan penyuluhan tentang pendidikan
seksual, penyuluhan tentang kesehatan seksual reproduksi, penyuluhan mengenai
masalah perilaku remaja, masalah kesehatan remaja secara umum, serta masalah
perkembangan remaja, juga memberikan penyuluhan tentang akibat dari pergaulan
bebas itu sendiri.
9.
Dari beberapa tulisan-tulisan “liar”
yang penulis baca berkenaan tentang
pergaulan bebas, menyebutkan bahwa pendidikan seksual dapat memicu
terjadinya pergaulan bebas. Bagaimana Dinas Kesehatan menanggapi akan hal ini?
Tidak, karena pada dasarnya, semua itu
tergantung kepada iman daripada remaja tersebut. Dan seharusnya pendidikan
seksual diberikan sejak dini, atau sejak SD. Agar saat si anak telah menginjak
masa remaja, masa yang labil dan serba ingin tahu, si anak tersebut dapat
memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik.
10.
Apa sajakah yang seharusnya dilakukan para
orang tua ketika menyadari bahwa anak
mereka telah terjerumus pada pergaulan yang salah?
Orang tua seharusnya dapat mengikuti perkembangan
mereka, tetapi juga dapat mengendalikan pergaulan mereka.
11.
Pada dasarnya, tidak adakah kesadaran
diri bagi remaja-remaja ini?
Semuanya kembali pada diri masing-masing
remaja.
12.
Biasanya, hal-hal apa saja yang
dilakukan para remaja yang telah terjerumus pada pergaulan bebas ini?
Karena remaja serba ingin tahu, mungkin
mereka akan meniru-niru adegan dalam situs-situs porno, karena saat ini
jaringan internet dapat diakses dimanapun dan kapanpun, dan lain sebagainya.
13.
Ketika mereka mengatakan bahwa pergaulan
bebas yang mereka geluti adalah pergaulan yang positif, bagaimana cara
meyakinkan mereka kembali?
Melalu pendekatan, karena remaja saat ini
lebih terbiasa kepada seseorang yang membiasakan dirinya perperilakau sama.
Mendekati si remaja agar bisa didengar. Kemudian memberikan pengetahuan akan
sisi kesehatan pergaulan yang mereka geluti.
Sumber
wawancara ini, penulis peroleh dari :
Mengetahui,
|
Kepala
Bidang Pembinaan
Kesehatan
dan Masyarakat
Dinas Kesehatan
Dr. Fatoni, M. Si
|
Fasilitator
Indah Farida Ratnawati, Amd. Keb
|
|