Kamis, 20 Juni 2013

MUMTAZ MAHAL



Resah purnama melihatnya,
dibalik dinding-dinding kelabu
rumah pagar besi...
Melayangkan pesona penuh sandiwara,
menyulap Mawar menjadi bunga Raflesia!!
takut...
          gentar...
                   mencekam...
          angkuh...
          menyiratkan panas yang menjalar
          namun ia bukan batu es!
          dan pada akhirnya,
          ia akan meleleh
          seperti lilin...
Bukan karena diterjang cacian dedaunan,
namun karena inilah saatnya...
saatnya berhenti
berhenti bergumam “Mumtaz Mahal”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar