Resah purnama melihatnya,
dibalik dinding-dinding kelabu
rumah pagar besi...
Melayangkan pesona penuh sandiwara,
menyulap Mawar menjadi bunga Raflesia!!
takut...
gentar...
mencekam...
angkuh...
menyiratkan
panas yang menjalar
namun
ia bukan batu es!
dan
pada akhirnya,
ia
akan meleleh
seperti
lilin...
Bukan karena diterjang cacian dedaunan,
namun karena inilah saatnya...
saatnya berhenti
berhenti bergumam “Mumtaz Mahal”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar