ANALISIS PUISI
Berikut
adalah beberapa puisi yang telah coba saya tentukan makna di balik hakikat
puisi tersebut.
1 . Analisis Puisi Atasi Amin
KAU
BELUM TIDUR
Kau belum
tidur, sayang
Matamu masih
tatapi langit-langit
Kau tampak
gelisah marahkah
Kau tak
menjawab
Matamu mulai
berkaca-kaca
Entah bahagia
atau derita
Aku
mencintaimu, sayang
Tapi kau cintai
aku kadang-kadang
Maka aku
khayalkan orang ketiga
2006
Puisi yang berjudul Kau Belum Tidur memiliki tema kemanusiaan. Saya menafsirkan demikian sebab puisi
tersebut melambangkan pengalaman seseorang (entah penyair atau orang
lain) terhadap
perasaan pada
seseorang.
Hal tersebut terlihat dari judul puisinya “Kau Belum Tidur”. Menurut pendapat saya, yang dimaksud oleh “Belum Tidur” di sana adalah perasaan lawan
jenisnya yang mudah torambang-ambing, ragu-ragu.
Menurut saya, penyair puisi itu
menceritakan tentang seseorang yang perasaan cintanyanya diombang-ambingkan
oleh orang yang dicintai. Sehingga pada akhirnya, seseorang itu membayangkan
cintanya untuk lain. Walau dihatinya tersimpan perasaan cinta untuk orang yang
dicintainya, yang masih ragu untuk mencintai seseorang itu.
JANJI
kita berjanji
bertemu di ruang ini
begitu katamu
seperti tercatat dalam sms
kemarin, yang menarikku
pada bayang-bayangmu
seolah berkata,
aku rindu padamu
tapi aku begitu
terbebani
Tema yang ada dalam puisi tersebut
adalah kemanusiaan, sebab menceritakan tentang sebuah kehidupan sehari-hari. Yang
menjelaskan mengenai janji seseorang yang diterimanya melalui sebuah sms.
Sehingga membuatnya merindukan orang yang mengirimkannya pesan singkat itu.
Hingga seolah terus terbayang rupa atau kebersamaannya bersama si pengirim
pesan. Tapi perasaannya merasa terbebani jika pada akhirnya tak dapat memenuhi
janjinya itu.
2 . Analisis Puisi Anton De Sumartana
BILA TAK BISA PATUH
?
.∙.
apa
SWAWEDAR69, 1991
Puisi yang berjudul Bila Tak Bisa Patuh memiliki tema religius dan
kemanusiaan.
Saya menafsirkan demikian sebab puisi
tersebut melambangkan pengalaman seseorang terhadap kepatuhannya
pada Tuhan atau orang tuanya. Hal tersebut terlihat dari judul puisinya “Bila Tak Bisa
Patuh”.
Menurut pendapat saya, yang dimaksud oleh “Tak Bisa Patuh” di sana adalah mengikuti apa
yang baik dan menjauhi apa yang dilarang, baik oleh Tuhan atau Orang tua. Hal tersebut seiring dengan cara
memahami puisi yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Mursal Esten (1995:32) “
Perhatikanlah judulnya. Judul adalah sebuah lubang kunci untuk keseluruhan
makna puisi”.
Menurut saya,
penyair menggunakan lambang sebagai wujud dari ekspresi perasaannya. Dimana
tanda tanya (?) bermakna, sebuah akibat dari pertanyaan “Bila Tak Bisa Patuh”.
Tanda (.∙.) biasanya digunakan
dalam pelajaran Matematika yang berarti adalah kesimpulan akhir, yang bermakna
‘Jadi’. Dan saya menyimpulkan bahwa puisi “Tak Bisa Patuh” ini bermakna apabila
seseorang tak bisa patuh pada Tuhan atau orang tua, pada akhirnya akan jadi
apa?
FATAL
1 2
3 4 5 6
7 1
Do re mi
fa sol la si dho
1 A
bukan
1 sa
bila
ingin
Surga
!
Tema dalam puisi tersebut menurut saya adalah religius.
Saya menafsirkan demikian karena puisi tersebut melambangkan sebuah akibat dari
dosa. Terlihat dari judul puisi yakni “Fatal” yang berarti bersifat
mencelakakan.
Lagi-lagi dalam puisi ini, Anton De Sumartana menggunakan
lambang sebagai wujud
dari ekspresi perasaannya. Dimana Not angka
tersebut sebuah kiasan yang digunakan penyair untuk menjembatani bait
per bait puisi itu. Angka (1) dalam puisi itu, dibaca ‘Do’. “Doa bukan Dosa, bila ingin surga!”.
Dimana Doa bukan hanya berarti harapan atau keinginan, namun juga hal-hal yang
baik, dan bermanfaat.
Menurut saya, puisi “Fatal” bermakna
tentang keinginan untuk masuk surga dengan banyak melakukan kebaikan, bukan
justru melakukan dosa sehingga mengakibatkan hal yang fatal akan terjadi pada
hidupnya. Pesan
yang ingin penyair sampaikan dalam puisi tersebut adalah bahwa kita sebagi
mahluk Tuhan seharusnya banyak melakukan kebaikan agar dapat Surga pilihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar