Senin, 08 Juli 2013

Apresiasi Puisi



ANALISIS  PUISI
 

Berikut adalah beberapa puisi yang telah coba saya tentukan makna di balik hakikat puisi tersebut.

1         .      Analisis Puisi Atasi Amin

KAU BELUM TIDUR


Kau belum tidur, sayang
Matamu masih tatapi langit-langit

Kau tampak gelisah marahkah
Kau tak menjawab

Matamu mulai berkaca-kaca
Entah bahagia atau derita

Aku mencintaimu, sayang
Tapi kau cintai aku kadang-kadang

Maka aku khayalkan orang ketiga

2006

Puisi yang berjudul Kau Belum Tidur memiliki tema kemanusiaan. Saya menafsirkan demikian sebab puisi tersebut melambangkan pengalaman seseorang (entah penyair atau orang lain) terhadap perasaan pada seseorang. Hal tersebut terlihat dari judul puisinya “Kau Belum Tidur”. Menurut pendapat saya, yang dimaksud oleh “Belum Tidur” di sana adalah perasaan lawan jenisnya yang mudah torambang-ambing, ragu-ragu.
Menurut saya, penyair puisi itu menceritakan tentang seseorang yang perasaan cintanyanya diombang-ambingkan oleh orang yang dicintai. Sehingga pada akhirnya, seseorang itu membayangkan cintanya untuk lain. Walau dihatinya tersimpan perasaan cinta untuk orang yang dicintainya, yang masih ragu untuk mencintai seseorang itu.


JANJI

kita berjanji bertemu di ruang ini
begitu katamu seperti tercatat dalam sms
kemarin, yang menarikku pada bayang-bayangmu
seolah berkata, aku rindu padamu

tapi aku begitu terbebani

Tema yang ada dalam puisi tersebut adalah kemanusiaan, sebab menceritakan tentang sebuah kehidupan sehari-hari. Yang menjelaskan mengenai janji seseorang yang diterimanya melalui sebuah sms. Sehingga membuatnya merindukan orang yang mengirimkannya pesan singkat itu. Hingga seolah terus terbayang rupa atau kebersamaannya bersama si pengirim pesan. Tapi perasaannya merasa terbebani jika pada akhirnya tak dapat memenuhi janjinya itu.





2        .      Analisis Puisi Anton De Sumartana

BILA TAK BISA PATUH

?
.∙.
apa

                                                                                                                           SWAWEDAR69, 1991


Puisi yang berjudul Bila Tak Bisa Patuh memiliki tema religius dan kemanusiaan. Saya menafsirkan demikian sebab puisi tersebut melambangkan pengalaman seseorang terhadap kepatuhannya pada Tuhan atau orang tuanya. Hal tersebut terlihat dari judul puisinya “Bila Tak Bisa Patuh”.
Menurut pendapat saya, yang dimaksud oleh “Tak Bisa Patuh” di sana adalah mengikuti apa yang baik dan menjauhi apa yang dilarang, baik oleh Tuhan atau Orang tua. Hal tersebut seiring dengan cara memahami puisi yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Mursal Esten (1995:32) “ Perhatikanlah judulnya. Judul adalah sebuah lubang kunci untuk keseluruhan makna puisi”.
Menurut saya, penyair menggunakan lambang sebagai wujud dari ekspresi perasaannya. Dimana tanda tanya (?) bermakna, sebuah akibat dari pertanyaan “Bila Tak Bisa Patuh”. Tanda (.∙.) biasanya digunakan dalam pelajaran Matematika yang berarti adalah kesimpulan akhir, yang bermakna ‘Jadi’. Dan saya menyimpulkan bahwa puisi “Tak Bisa Patuh” ini bermakna apabila seseorang tak bisa patuh pada Tuhan atau orang tua, pada akhirnya akan jadi apa?



FATAL

1     2    3    4   5    6   7   1
Do  re  mi  fa  sol  la  si  dho

1 A
bukan 1 sa

bila ingin

Surga
!

Tema dalam puisi tersebut menurut saya adalah religius. Saya menafsirkan demikian karena puisi tersebut melambangkan sebuah akibat dari dosa. Terlihat dari judul puisi yakni “Fatal” yang berarti bersifat mencelakakan.
Lagi-lagi dalam puisi ini, Anton De Sumartana menggunakan lambang sebagai wujud dari ekspresi perasaannya. Dimana Not angka  tersebut sebuah kiasan yang digunakan penyair untuk menjembatani bait per bait puisi itu. Angka (1) dalam puisi itu, dibaca ‘Do’. “Doa bukan Dosa, bila ingin surga!”. Dimana Doa bukan hanya berarti harapan atau keinginan, namun juga hal-hal yang baik, dan bermanfaat.
Menurut saya, puisi “Fatal” bermakna tentang keinginan untuk masuk surga dengan banyak melakukan kebaikan, bukan justru melakukan dosa sehingga mengakibatkan hal yang fatal akan terjadi pada hidupnya. Pesan yang ingin penyair sampaikan dalam puisi tersebut adalah bahwa kita sebagi mahluk Tuhan seharusnya banyak melakukan kebaikan agar dapat Surga pilihan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar