Kamis, 18 Februari 2016

=TUHANMU, APA?=

Salah satu syarat yudisum dan wisuda di kampus saya adalah menyertakan fotokopi ijazah terakhir (legalisir basah), dan otomatis ijazah terakhir saya adalah MA.

Karena saat MA saya bersekolah diluar kota terlebih diluar Madura, itu membuat saya sedikit kesulitan untuk legalisir fotokopi ijazah. Dan dalam tempo beberapa hari ini, saya gak mungkin 'kan keluar kota? Sedangkan Yudisium saya tinggal menghitung hari.
Alhasil, berkat saran orangtua disuruhlah saya untuk mengurusnya di Kantor DEPAG.

Kemarin, tanggal 16 Pebruari 2016 lewat pukul 14.00 siang, saya ditemani seorang teman datang ke kantor DEPAG Kota Sumenep. Kepentingan saya untuk melegalisir fotokopi Ijazah MA.

Pertama kali menginjakkan kaki di kantor DEPAG saya langsung menuju bangunan pertama dari pintu gerbang kantor. Disana saya disambut sangat ramah oleh seorang satpam, seorang laki-laki seusia saya dan seorang laki-laki seusia ayah saya. Saya utarakan maksud kedatangan saya pada mereka, dan si Bapak -laki-laki seusia ayah ayah saya- menunjukkan bangunan lain di belakang bangunan yang saya datangi. Disuruhnya saya untuk mengurus kepentingan saya pada karyawan yang bertugas di bangunan belakang itu.

Seraya mengucapkan terima kasih, saya dan teman bergegas mendatangi bangunan yang berdiri di belakang bangunan pertama. Bangunan kedua ini, ukurannya 5x lebih kecil dari bangunan pertama. Di atas pintunya bertuliskan "PENDMA" dengan kepanjangan Pendidikan Madrasah.

Saat saya dan teman memasuki PENDMA, di dalamnya terdapat ruang tamu dengan beberapa ruangan di samping kanan, kiri dan belakang. Saya masuk ke ruangan sebelah kiri, sedang teman saya menunggu di ruang tamu. Dalam ruangan itu terdapat beberapa pegawai berseragam putih-hitam dan beberapa meja pegawai yang terlihat kosong. Hanya beberapa yang nampak di mata saya.

Dari pegawai yang mejanya menghadap pintu masuk, seorang laki-laki seusia ayah saya sedang sibuk dengan smartphone berwarna pink-nya. Di samping pintu sebelah kanan adalah meja seorang perempuan muda, saya taksir usianya tak jauh berbeda dari saya. Masih sama dengan si Bapak, mbak ini juga sibuk bbm dengan smartphone supergedenya seraya sesekali menatap layar komputer di hadapannya. Lalu di sebelah meja perempuan muda itu, tepatnya pada meja pojok barat, ditempati seorang perempuan yang usianya lebih muda dari ibu saya, sedang sibuk di depan layar komputer seraya menerima tamu. Ada raut tak suka si ibu pada tamunya. Jelas sekali terlihat si Ibu bersikap angkuh pada tamu laki-lakinya yang sedang kebingungan. Lalu pada pojok timur ada meja seorang laki-laki muda yang sibuk sendiri dengan tamunya.

Jujur, saya sempat tercengang karena semua yang saya lihat sedang sibuk. Bahkan Bapak “Pinki Boy” (mengingat smartphone-nya yang berwarna pink), sempat melihat kedatangan saya, namun saya sama sekali tak digubris. Mungkin, ada yang lebih penting di layar smartphone-nya daripada menerima kehadiran saya sebagai tamu. Juga mbak di samping tempat saya berdiri.

Akhirnya, setelah cukup lama saya berdiri kebingungan, si mbak bertanya tujuan kedatangan saya. Saya katakan untuk minta legalisir fotokopi ijazah MA, karena MA saya diluar kota.

“Hmmm ... gimana, yah mbak? Ke siapa yah, mbk?” ujar mbak itu seraya celingukan pada karyawan lain yang masih sibuk setelah saya utarakan kepentingan saya. Karena pegawai yang lain sedang sibuk dan tak merespon, si mbak terus saja berkutat di depan komputer dengan smartphone di tangannya

Memang, makhluk bernama perempuan itu multitasking!

Dan, lagi-lagi saya didiamkan!

Tak lama, si mbak bertanya lagi, “buat apa mbk?”
“Buat syarat ikut yudisium dan wisuda, mbk!” jawab saya sedikit kesal, tapi saya masih berusaha tersenyum.
Ada raut terkejut sekaligus kurang suka yang dihadiahkan mbak cantik itu pada saya.
“Emang dimana sekolahnya, mbk?” tanyanya lagi. “Di Pasuruan, mbk!”
“Kan Pasuruan deket, mbk?” ujar mbak itu pada saya.

Tiba-tiba saya mengumpat dalam hati ... Astaghfirullah!
Halloooohh, mbak ... apa Sumenep-Pasuruan itu seperti jalan kaki dari rumah saya ke Pasar Anom? Apa Sumenep-Pasuruan itu seperti naik angkot dari pangkalan ke kampus saya? Masyaa Allah ...
“Masalahnya mbak, saya butuhnya minggu ini. Karena yudisium saya tinggal beberapa hari lagi! Masak iya mau jauh-jauh ke Pasuruan, sedang saya masih harus melengkapi berkas yang lain” jawab saya, akhirnya.

Si mbak itu celingukan lagi, akhirnya Ibu di sampingnya bertanya juga. Mungkin jengah melihat saya.
Dan si mbak cantik menjelaskan perihal kepentingan saya. Lalu kembali pada aktivitasnya.
Si Ibu menatap saya dengan raut yang masih sama dengan yang ditunjukkan pada tamu dihadapannya,”Oh ... gabisa, mbak!” jawabnya ketus.

Ok, saya sudah benar-benar kesal dan tak ingin berlama-lama dalam ruangan itu. “Oh iya, makasih!” seru saya dengan tersenyum lalu ngeloyor pergi.

Kepergian saya dari ruangan itu masih diantar dengan kegiatan yang sama. Si Mas asyik dengan tamunya, si Ibu judes juga dengan tamunya yang kebingungan, si Mbak cantik dengan smartphone dan komputernya, dan si Bapak “Pinki Boy” duduk manis dengan smartphone unyunya yang tak merespon sedikitpun sejak kedatangan saya.

Usai dari sana, teman yang menemani saya lantas berkomentar, “aaah .. kan, emang gitu, Nis! Kalo bukan kerabat, akan dipersulit. Yaa ... gadget sekarang itu Tuhannya manusia.”

Sebenarnya, saya ke kantor itu bukan hanya atas perintah orangtua saya. Tapi juga memang ada hukum yang sudah mengatur perihal kepentingan saya.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI nomor 29 tahun 2014 tentang Pengesahan Fotokopi Ijazah/Surat Tanda Tamat Belajar, Surat Keterangan Pengganti Ijazah/ Surat Tanda Tamat Belajar, dan Penerbitan Keterangan Pengganti Ijazah/ Surat Tanda Tamat Belajar Pasal II point 6 bahwa : Pengesahan Fotokopi Ijazah/STTB dan Surat Keterangan Pengganti Ijazah/STTB yang berdomisili di Kabupaten/Kota yang berbeda dengan kabupaten/kota sekolah asal dapat dilakukan Kepala Dinas Kabupaten/Kota yang membidangi pendidikan di tempat pemohon berdomisili.

Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 11 tahun 2002 , Lampiran 1a : PEJABAT YANG BERWENANG MENGESAHKAN FOTO COPY IJAZAH / STTB dengan jenjang pendidikan SD, SMP, SMA dan yang setingkat yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh kepala sekolah bersangkutan dan yang berhak mengesahkan legalisir dan fotokopi adalah kepala sekolah yang bersangkutan/Kepala/Kabag/Kabid/Kasubdin atau yang setingkat dan berkompeten pada Dinas Pendidikan dan Kantor DEPAG Kab/Kota.

Jadi bagaimana?

Kalaupun hukum ini tidak berlaku untuk DEPAG, saya sih gak masalah. Saya masih bisa mendatangi Dinas Pendidikan.
Saya ke kantor DEPAG karena saya Alumni dari sebuah MA diluar kota. Bukankah DEPAG menaungi itu?

Hanya saja, saya kurang suka terhadap pelayanan di PENDMA.
 

Katanya PENDMA singkatan dari Pendidikan Madrasah.
Tapi kok, sikapnya jaaauuuuh sekali dari orang yang berpendidikan! Entah dulu sekolahnya dimana, saya rasa beliau-beliau itu belum tahu pengajaran Etika!

Perlulah di“MADRASAH”kan sikap pegawai PENDMA.

Kan ... tamu adalah Raja.
Tapi kalau gadget adalah Tuhan mereka ...
Pastilah, Raja itu kalah saing sama Tuhan!

=MIKIR!!!=



Untuk yang sedang menunggu jodoh, banyak sekali postingan untuk segera memantaskan diri agar menjemput atau dijemput dengan jodoh terbaik. Bukankah, sebaik-baik wanita untuk laki-laki yang baik dan sebaliknya!

Aaah, selalu begitu ...

Saya jadi berpikir, Lillah gak yaa?

Mau memperbaiki diri apa mesti hanya ketika menunggu jodoh?
 

Ingin memantaskan diri apa harus niatnya karena ingin mengharap jodoh terbaik dariNYA?


Baik, sih memang ... 
Menuntun para manusia untuk lebih mengenal Rabb, Tuhan Semesta Alam.

Hanya saja ... ketika Istiqomah hanya sebatas itu, apa Allah ridha???

Untuk ikhwan dan akhwat ...
Ya, semoga niat memperbaiki diri bukan sekedar karena jodoh!

=Secangkir Kopi=


Entah apa yang kamu cari Mas, Mbak ...
popularitas? Materi? Pemenuhan akan sebuah janji? Atau lainnya???
Tanpa kamu sadari, ada 1 hal yang kamu lupakan.
Kamu sudah menggadaikan persahabatanmu!
Yang awalnya teman/sahabat, bisa berubah menjadi musuh dalam selimut.
Yang awalnya akrab dan baik-baik saja, bisa berubah menjadi basa-basi dan penuh kepura-puraan.
Kamu ... seperti sahabat penabur sianida dalam secangkir kopi kala senja kemarin.
Lucu sekali ketika persahabatanmu kamu anggap hanyalah sebuah manifestasi politik,
yang tak lebih berharga dari selembar tisu toilet!

‪#‎KelakuanMahasiswaJilid2‬