Untuk Cinta
Aku berjalan bersama keempat
temanku, menuju Fakultas Bahasa & Budaya di gedung ketiga dan deretan
gedung – gedung megah kampusku. Teriknya matahari siang tak mengurungkan
langkah kaki kami untuk tetap mengikuti perkuliahan.
Saat akan tiba, seseorang
mengejutkanku.
“ Dee….”
Kualihkan pandanganku mencari
sososknya. Sosok yang selalu memanggilku “Dee’’. Kutemukan dirinya sedang duduk
bersama teman –temannya didepan perpustakaan Fakultasku. Kuberikan senyumku
padanya, yang dibalas oleh senyuman pula darinya.
“ Duluan Jo !” Ucapku yang
dibalas dengan anggukan darinya.
Hhh…… laki – laki itu.
Laki – laki yang tetap teguh
memanggilku “ Dee “
Sembari kulangkahkan kakiku
menuju kelas di lantai dua, pikiranku berkelana. Mengingat setiap episode –
episode perkenalanku dengan lelaki yang baru saja menyapaku. Ckckckc ….
# # #
Namanya Johan Rexa. Lelaki
blasteran Jepang – Palembang ini mahasiswa akhir Fakultas Ilmu Komunikasi.
Gedung kuliahnya, tepat berada di depan gedung kuliahku.
Matanya sedikit sipit, dengan
senyum yang selalu terkembang pada siapapun yang dikenalnya. Wajahnya menjadi
idola disetiap sudut kampusku.
Aku mengenalnya saat
berpapasan dengannya di Seketariat senat. Ia meminta bantuanku untuk membawakan
beberapa karton ke ruang kesenian. Itulah awal perkenalan kami, yang terjadi
sekitar 2 tahun lalu.
Entah dari mana ia mendapatkan
nomor ponselku, yang jelas ia mengajakku pada sebuah tali persahabatan.
Dia baik padaku, aku juga baik
padanya dan persahabatan kami yang pada dasarnya berbeda tak runtuh walau
dirinya pernah mengatakan sesuatu yang mengejutkanku.
Johan Rexa, lelaki yang banyak
digilai perempuan – perempuan dikampusku. Lelaki yang tak pernah mau
memanggilku “ Laras “ . Dan yang tak pernah mengijinkanku memanggilnya “ kakak
“. Katanya, agar lebih dekat jalinan persahabatan kami, dia menyuruhku
memanggilnya “ Jo”. Simple …
Pernah disuatu waktu, kami
bertemu di perpustakaan Fakultasku. Saat itu Jo baru saja berbincang dengan
temannya yang sama Fakultas denganku. Saat melihatku tengah sendiri, Jo
mengampiriku.
“ Dee….” Sapanya ramah.
Aku yang sedang duduk membaca,
mendongak kepadanya yang telah berdiri tepat disebelahku. Tersenyum kepadanya.
“ Hai … ayo duduk !” balasku
seraya mempersilahkannya duduk dikursi sebelahku yang kosong, entah mengapa
hari ini perpustakaan sepi pengunjung hanya segelintir orang yang nampak.
Jo lantas duduk disebelahku
dengan membawa sebuah buku yang mungkin hendak dibacanya. Yang jelas, Jo
membuka – membuka lembaran buku itu. Hehehe Lucu !
“ Dee… kerinduan setiap jiwa
itu indah ya ?? kita mencintai orang yang berbeda – beda, di tempat yang
berbeda juga. Namun pada akhirnya kita mempunyai tujuan yang sama, meraih
kegembiraan, kedamaian, kasih sayang, dan hidup penuh makna. “ ucapnya, memulai
pembicaraan kami.
Aku mengernyitkan dahi.
Mencoba mencerna perkataan Jo, “kamu kenapa ?” tanyaku.
Jo menoleh lalu menatapku,
menyunggingkan seuntas senyum indahnya.
“ Gak Dee…. Hehehe….. aku
kangen kamu !!! “ jujurnya padaku.
Spechleeeees…..
Ku coba membalas senyum Jo. “
kok bisa ??? ” tanyaku konyol.
Kulihat Jo menggaruk – garuk
kepalanya. “ Dee… seandainya ada cowok beda keyakinan denganmu, terus dia
naksir kamu gimana ? ”
“ Itu hak dia Jo…”
“ Maksudku, Dee mau menerima
dia ?”
Aku tersenyum simpul membalas
tatapan Jo. “ kamu kenapa sih ??” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Jo menggeleng lemah, “ Cowok
yang Dee suka tipe seperti apa ?”
Aku berfikir sejenak, “ dia
tidak kasar Jo ! “. Akhirnya...
“ Kalo beda keyakinan sama Dee
???”
Lagi….
“ Jo tahu kan, aku perempuan
muslim? Perempuan muslim gak boleh dinikahi lelaki non muslim, Jo” jawabku
padanya.
“Kalo dia suka Dee lebih dari
dia suka dirinya ?”
“Jika dia menginginkanku
menjadi perempuannya, dia harus menjadi muslim bersamaku, Jo….”
Kulihat Jo menghela nafas.
“Dee….”
“ Iya ?”
“ Kenapa seperti itu ? Bisa
kan berjalan dengan keyakinan masing-masing?”
“ Perempuan lebih mengutamakan
perasaannya, Jo. Itu kenapa dalam Islam dilarang adanya pernikahan perempuan
muslim dengan laki-laki non muslim. Beda dengan laki – laki yang notabene lebih
menggunakan logika, Jo. Islam memperbolehkan pernikahan itu asal si laki – laki
sanggup membawa istrinya kepada Islam. Laki – laki adalah pemimpin
keluarga, Jo” jelasku padanya .
Jo manggut – manggut saja.
“ Tapi Dee… Jo sayang sama
Dee. Jo jatuh cinta ! “ ungkapnya seketika.
Shock !!
Oooh laki – laki ini...dia
mengatakan menyukaiku?
Laki – laki yang berbeda keyakinan denganku ?
Laki – laki yang berbeda keyakinan denganku ?
Aku tahu bagaimana Jo. Dia
Khatolik yang kental. Dia tak ingin begitu saja masuk ke agamaku. Dia orang
beriman di agamanya.
“ Jo tahu kita berbeda Dee !”
ucapnya mengejutkanku.
“…” aku tercengang . ”Aku
belum bisa membuka hatiku, jo!!” jawabku sekenanya. Akhirnya …
“ Aku gak bisa menyimpan
perasaan terlalu lama, Dee! Mungkin Dee gak terima pernyataan ini. Tapi Jo
tulus. Jo tahu, Dee gak akan pernah bisa terima, karena kita berbeda. Tapi Jo
sayang Dee, “
Aku harus bagaimana ??
Aku bingung !!!
Bukan. Bukan karena aku tak
tau perasaanmu, Jo. Justru karena aku pernah mengalaminya.
“ Dee ?” panggil Jo,
menyadarkanku.
“ Kenapa bisa Jo?”
“ Ndak tau Dee !! sayang gak
butuh penjelasan kan Dee ?”
So sweet...
“ Aku gak cantik Jo ! “
“ Dee…Bukan fisik yang kulihat
tapi karena Dee berbeda. Dee tetap setia dengan busana muslim Dee, saat teman –
teman yang lain lebih tertarik kepada legging dibanding rok. Pokoknya Dee
berbeda dan Dee mau berteman dengan Jo. Bukan karena siapa dan bagaimana Jo.
Dee tulus!! Dan buatku, Dee cantik” ungkap Jo dengan senyum yang merekah di
bibirnya.
“ Jo, kita jalani saja
pertemanan ini !” jawabku.
Kulihat raut wajah Jo berubah
saat itu.
Maaf Jo …
Gamang!!!
Aku tau, kamu menangis Jo.
Dihatimu!
Aku tahu perasaanmu Jo,
perasaan yang sama yang juga pernah kurasakan saat aku jatuh cinta pada
seseorang.
Perasaan tersiksa karena
menyimpannya, juga rasa sakit saat tahu bahwa orang yang dicinta tak pernah
membicarakan perasanya.
Aku kini baru menyadarinya,
Jo. Bagaimana rasanya menjadi dirinya menjadi orang yang dicintai yang tak
ingin memberi harapan palsu. Dan perasaan itu, itu dulu Jo. Sebelum aku memulai
menutup diri. Juga sebelum aku ingin menjaga diri agar bisa menjadi orang yang
pantas untuk seseorang disana Jo.
Entahlah…perasaan apa semua
ini???.
Maafkan aku jo!
“Maaf Jo, aku gak bisa bersama
Jo !” ungkapku lagi.
Perang batin !!
# # #
Aku tersenyum di teras depan
rumahku seorang diri. Mengingat Johan Rexa setelah perbincangan kami di
perpustakaan Fakultasku beberapa hari lalu. Yang bertemu kembali siang tadi.
Dia masih Jo yang dikenalku.
Di tanganku terselip surat
berwarna pink soft. Surat yang diberikan Ardi tetanggaku padaku. Teman dekat
Jo, ternyata. Dan surat itu dari Jo.
Deana
Larasati
Hidup itu
bukan tetang suka atau tidak. Tetapi hidup itu mencari perdamaian dan
persahabatan. Dan aku senang saat Dee berani dan tegas menjawab pertanyaanku.
Aku merasa
nyaman denganmu!
Terima kasih
Dee, telah mengijinkanku untuk mencintaimu.
Tapi… kita
tetap bersahabat bukan ??
Ku tunggu
dirimu membalas suratku.
Salam sayang
Johan Rexa
Iya, Jo masih sahabatku !
Malam ini keberangkatan Jo ke
USA. Mengejar studi S2nya.
Terima kasih, Jo. Terima kasih
untuk cintamu dan untuk semuanya...
Maaf tak bisa mengantar
keberangkatanmu dan sukses for you :D
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar