Sabtu, 20 Juli 2013

Untuk Cinta



Untuk Cinta


Aku berjalan bersama keempat temanku, menuju Fakultas Bahasa & Budaya di gedung ketiga dan deretan gedung – gedung megah kampusku. Teriknya matahari siang tak mengurungkan langkah kaki kami untuk tetap mengikuti perkuliahan.
Saat akan tiba, seseorang mengejutkanku.

“ Dee….”

Kualihkan pandanganku mencari sososknya. Sosok yang selalu memanggilku “Dee’’. Kutemukan dirinya sedang duduk bersama teman –temannya didepan perpustakaan Fakultasku. Kuberikan senyumku padanya, yang dibalas oleh senyuman pula darinya.

“ Duluan Jo !” Ucapku yang dibalas dengan anggukan darinya.

Hhh…… laki – laki itu.

Laki – laki yang tetap teguh memanggilku “ Dee “

Sembari kulangkahkan kakiku menuju kelas di lantai dua, pikiranku berkelana. Mengingat setiap episode – episode perkenalanku dengan lelaki yang baru saja menyapaku. Ckckckc ….

#   #   #

Namanya Johan Rexa. Lelaki blasteran Jepang – Palembang ini mahasiswa akhir Fakultas Ilmu Komunikasi. Gedung kuliahnya, tepat berada di depan gedung kuliahku.

Matanya sedikit sipit, dengan senyum yang selalu terkembang pada siapapun yang dikenalnya. Wajahnya menjadi idola disetiap sudut kampusku.

Aku mengenalnya saat berpapasan dengannya di Seketariat senat. Ia meminta bantuanku untuk membawakan beberapa karton ke ruang kesenian. Itulah awal perkenalan kami, yang terjadi sekitar 2 tahun lalu.

Entah dari mana ia mendapatkan nomor ponselku, yang jelas ia mengajakku pada sebuah tali persahabatan.

Dia baik padaku, aku juga baik padanya dan persahabatan kami yang pada dasarnya berbeda tak runtuh walau dirinya pernah mengatakan sesuatu yang mengejutkanku.

Johan Rexa, lelaki yang banyak digilai perempuan – perempuan dikampusku. Lelaki yang tak pernah mau memanggilku “ Laras “ . Dan yang tak pernah mengijinkanku memanggilnya “ kakak “. Katanya, agar lebih dekat jalinan persahabatan kami, dia menyuruhku memanggilnya “ Jo”. Simple …

Pernah disuatu waktu, kami bertemu di perpustakaan Fakultasku. Saat itu Jo baru saja berbincang dengan temannya yang sama Fakultas denganku. Saat melihatku tengah sendiri, Jo mengampiriku.

“ Dee….” Sapanya ramah.

Aku yang sedang duduk membaca, mendongak kepadanya yang telah berdiri tepat disebelahku. Tersenyum kepadanya.

“ Hai … ayo duduk !” balasku seraya mempersilahkannya duduk dikursi sebelahku yang kosong, entah mengapa hari ini perpustakaan sepi pengunjung hanya segelintir orang yang nampak.

Jo lantas duduk disebelahku dengan membawa sebuah buku yang mungkin hendak dibacanya. Yang jelas, Jo membuka – membuka lembaran buku itu. Hehehe Lucu !

“ Dee… kerinduan setiap jiwa itu indah ya ?? kita mencintai orang yang berbeda – beda, di tempat yang berbeda juga. Namun pada akhirnya kita mempunyai tujuan yang sama, meraih kegembiraan, kedamaian, kasih sayang, dan hidup penuh makna. “ ucapnya, memulai pembicaraan kami.

Aku mengernyitkan dahi. Mencoba mencerna perkataan Jo, “kamu kenapa ?” tanyaku.

Jo menoleh lalu menatapku, menyunggingkan seuntas senyum indahnya.

“ Gak Dee…. Hehehe….. aku kangen kamu !!! “ jujurnya padaku.

Spechleeeees…..

Ku coba membalas senyum Jo. “ kok bisa ??? ” tanyaku konyol.

Kulihat Jo menggaruk – garuk kepalanya. “ Dee… seandainya ada cowok beda keyakinan denganmu, terus dia naksir kamu gimana ? ”

“ Itu hak dia Jo…”

“ Maksudku, Dee mau menerima dia ?”

Aku tersenyum simpul membalas tatapan Jo. “ kamu kenapa sih ??” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Jo menggeleng lemah, “ Cowok yang Dee suka tipe seperti apa ?”

Aku berfikir sejenak, “ dia tidak kasar Jo ! “. Akhirnya...

“ Kalo beda keyakinan sama Dee ???”

Lagi….

“ Jo tahu kan, aku perempuan muslim? Perempuan muslim gak boleh dinikahi lelaki non muslim, Jo” jawabku padanya.

“Kalo dia suka Dee lebih dari dia suka dirinya ?”

“Jika dia menginginkanku menjadi perempuannya, dia harus menjadi muslim bersamaku, Jo….”

Kulihat Jo menghela nafas.

“Dee….”

“ Iya ?”

“ Kenapa seperti itu ? Bisa kan berjalan dengan keyakinan masing-masing?”

“ Perempuan lebih mengutamakan perasaannya, Jo. Itu kenapa dalam Islam dilarang adanya pernikahan perempuan muslim dengan laki-laki non muslim. Beda dengan laki – laki yang notabene lebih menggunakan logika, Jo. Islam memperbolehkan pernikahan itu asal si laki – laki sanggup membawa istrinya kepada Islam. Laki – laki adalah pemimpin  keluarga, Jo” jelasku padanya .
Jo manggut – manggut saja.

“ Tapi Dee… Jo sayang sama Dee. Jo jatuh cinta ! “ ungkapnya seketika.

Shock !!

Oooh laki – laki ini...dia mengatakan menyukaiku? 
Laki – laki yang berbeda keyakinan denganku ?

Aku tahu bagaimana Jo. Dia Khatolik yang kental. Dia tak ingin begitu saja masuk ke agamaku. Dia orang beriman di agamanya.

“ Jo tahu kita berbeda Dee !” ucapnya mengejutkanku.

“…” aku tercengang . ”Aku belum bisa membuka hatiku, jo!!” jawabku sekenanya. Akhirnya …

“ Aku gak bisa menyimpan perasaan terlalu lama, Dee! Mungkin Dee gak terima pernyataan ini. Tapi Jo tulus. Jo tahu, Dee gak akan pernah bisa terima, karena kita berbeda. Tapi Jo sayang Dee, “

Aku harus bagaimana ??

Aku bingung !!!

Bukan. Bukan karena aku tak tau perasaanmu, Jo. Justru karena aku pernah mengalaminya.

“ Dee ?” panggil Jo, menyadarkanku.

“ Kenapa bisa Jo?”

“ Ndak tau Dee !! sayang gak butuh penjelasan kan Dee ?” 

So sweet...

“ Aku gak cantik Jo ! “
 
“ Dee…Bukan fisik yang kulihat tapi karena Dee berbeda. Dee tetap setia dengan busana muslim Dee, saat teman – teman yang lain lebih tertarik kepada legging dibanding rok. Pokoknya Dee berbeda dan Dee mau berteman dengan Jo. Bukan karena siapa dan bagaimana Jo. Dee tulus!! Dan buatku, Dee cantik” ungkap Jo dengan senyum yang merekah di bibirnya.

“ Jo, kita jalani saja pertemanan ini !” jawabku.

Kulihat raut wajah Jo berubah saat itu.
 
Maaf Jo …

Gamang!!!

Aku tau, kamu menangis Jo. Dihatimu!

Aku tahu perasaanmu Jo, perasaan yang sama yang juga pernah kurasakan saat aku jatuh cinta pada seseorang.

Perasaan tersiksa karena menyimpannya, juga rasa sakit saat tahu bahwa orang yang dicinta tak pernah membicarakan perasanya.

Aku kini baru menyadarinya, Jo. Bagaimana rasanya menjadi dirinya menjadi orang yang dicintai yang tak ingin memberi harapan palsu. Dan perasaan itu, itu dulu Jo. Sebelum aku memulai menutup diri. Juga sebelum aku ingin menjaga diri agar bisa menjadi orang yang pantas untuk seseorang disana Jo.

Entahlah…perasaan apa semua ini???.

Maafkan aku jo!

“Maaf Jo, aku gak bisa bersama Jo !” ungkapku lagi.

Perang batin !!

#   #   #


Aku tersenyum di teras depan rumahku seorang diri. Mengingat Johan Rexa setelah perbincangan kami di perpustakaan Fakultasku beberapa hari lalu. Yang bertemu kembali siang tadi. Dia masih Jo yang dikenalku.

Di tanganku terselip surat berwarna pink soft. Surat yang diberikan Ardi tetanggaku padaku. Teman dekat Jo, ternyata. Dan surat itu dari Jo.

Deana Larasati
 
Hidup itu bukan tetang suka atau tidak. Tetapi hidup itu mencari perdamaian dan persahabatan. Dan aku senang saat Dee berani dan tegas menjawab pertanyaanku.

Aku merasa nyaman denganmu!

Terima kasih Dee, telah mengijinkanku untuk mencintaimu.

Tapi… kita tetap bersahabat bukan ??

Ku tunggu dirimu membalas suratku.
Salam sayang

Johan Rexa


Iya, Jo masih sahabatku ! 

Malam ini keberangkatan Jo ke USA. Mengejar studi S2nya. 

Terima kasih, Jo. Terima kasih untuk cintamu dan untuk semuanya...

Maaf  tak bisa mengantar keberangkatanmu dan sukses for you :D


THE END


Tidak ada komentar:

Posting Komentar