Selasa, 28 Mei 2013

MENGANALISA DIALEK BAHASA TENGGER



LAPORAN PERTANGGUNG-JAWABAN
KEGIATAN STUDI BAHASA (S.B)

MAHASISWA SEMESTER III
STKIP PGRI SUMENEP
Tahun  2012/2013

STKIP  PGRI  Sumenep

Periode 2011-2012




KATA PENGANTAR

Tiada kata yang mampu terucap, selain ungkapan syukur yang mampu diucapkan kepada Ilahi Rabbi, Tuhan Semesta Alam. Dia-lah pengatur apa-apa yang ada dijagad raya ini, yang tahu apa yang terbaik bagi para hamba-Nya. Yang dengan curahan dan limpahan petunjuk serta hidayah teruntuk hamba-Nya, yang tidak akan pernah ada habisnya.
Alhamdulillah, kami telah menyelesaikan laporan penelitian dengan judul :

MENGANALISA DIALEK BAHASA TENGGER

Laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Sosiolinguistik dan psikolinguistik”. Selain itu juga, tentunya tidak terlepas dari peran berbagai pihak yang telah berjasa membantu kami dalam menyelesaikan laporan ini. 


DAFTAR ISI

Halaman judul.........................................................................................................    i          

Kata Pengantar.........................................................................................................   1

Daftar Isi..................................................................................................................   2

BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah..........................................................................  3
1.2  Rumusan Masalah...................................................................................  4
1.3  Tujuan ....................................................................................................  4
1.4  Kegunaan................................................................................................  4
1.5  Hipotesis.................................................................................................  5
1.6  Metode Penulisan...................................................................................   5
1.7  Sasaran Wawancara................................................................................  5

BAB II PEMBAHASAN
2.1  Sejarah Bahasa Tengger........................................................................    6
2.2  Perkembangan Bahasa Tengger ditinjau dari Waktu............................    9
2.3  Tindak Bahasa Masyarakat Tengger.....................................................   11
             
BAB III PENUTUP
            3.1 Kesimpulan.............................................................................................  14
            3.2 Kritik dan saran.......................................................................................  14

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 15

LAMPIRAN.............................................................................................................  16



BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk sosial, manusia melakukan interaksi, bekerjasama, dan menjalin kontak sosial di dalam masyarakat. Dalam melakukan hal tersebut, manusia membutuhkan sebuah alat komunikasi yang berupa bahasa. Bahasa memungkinkan manusia membentuk kelompok sosial, sebagai pemenuhan kebutuhannya untuk hidup bersama. Dalam kelompok sosial tersebut manusia terikat secara individu. Keterikatan individu-individu dalam kelompok ini sebagai identitas diri dalam kelompok tersebut. Setiap individu adalah anggota dari kelompok sosial tertentu yang tunduk pada seperangkat aturan yang disepakati dalam kelompok tersebut. Salah satu aturan yang terdapat di dalamnya adalah seperangkat aturan bahasa.
Bahasa dalam lingkungan sosial masyarakat satu dengan yang lainnya berbeda. Adanya kelompok-kelompok sosial tersebut menyebabkan bahasa yang dipergunakan beragam. Keragaman bahasa ini timbul sebagai akibat dari kebutuhan penutur yang memilih bahasa yang digunakan agar sesuai dengan situasi konteks sosialnya. Oleh karena itu, ragam bahasa timbul bukan karena kaidah-kaidah kebahasaan, melainkan disebabkan oleh kaidah-kaidah sosial yang beraneka ragam.
Dalam ragam bahasa setidaknya terdapat tiga hal, yaitu pola-pola bahasa yang sama, pola-pola bahasa yang dapat dianalis secara deskriptif, dan pola-pola yang dibatasi oleh makna tersebut dipergunakan oleh penuturnya untuk berkomunikasi. ragam bahasa juga dapat dilihat dari enam segi, yaitu tempat, waktu, pengguna, situasi, dialek yang dihubungkan dengan sapaan, status, dan penggunaan ragam bahasa (Pateda dalam Chaer 1987: 52).
Bahasa merupakan fenomena sosial. Kita tidak dapat memisahkan bahasa dari kebudayaan di dalam masyarakat, sebab hubungan antara keduanya sangat erat. Bahasa itu sudah menyatu benar dengan orang yang menggunakannya dan memlikinya. Karena bahasa itu berkembang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik kebudayaan di dalam masyarakat, maka setiap bahasa merefleksikan kebudayaan masyarakat pemakainya. Bahasa itu merupakan bagian dari sistem nilai, kebiasaan, dan keyakinan yang kompleks yang membentuk suatu kebudayaan.
Bahasa dan masyarakat, bahasa dan kemasyarakatan, dua hal yang bertemu di satu titik, artinya antara bahasa dan masyarakat tidak akan pernah terpisahkan. Bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer, digunakan oleh anggota masayarakat sebagai alat komunikasi, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri. Bahasa begitu melekat erat, menyatu jiwa di setiap penutur di dalam masyarakat. Ia laksana sebuah senjata ampuh untuk mempengaruhi keadaan masyarakat dan kemasyarakatan. Fungsi bahasa sebagai alat untuk berinteraksi atau berkomunikasi dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau juga perasaan di dalam masyarakat inilah di namakan fungsi bahasa secara tradisional.

2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada laporan penelitian ini :
·      Bagaimana sejarah bahasa tengger?
·      Bagaimana perkembangan bahasa yang terjadi terhadap bahasa tengger?
·      Bagaimana penguasaan bahasa daerah terhadap bahasa tengger oleh masyarakat sekitar?

3.Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah :
(1)     Mengidentifikasikan adanya kekerabatan bahasa pada bahasa tengger, sekaligus adanya variasi bahasa pada dialek bahasa tengger ditinjau dari segi waktu, serta tindak bahasa masyarakat Tengger.

4. Kegunaan
Bahasa Tennger di Kota Probolinggo, Jawa Timur ini menarik untuk dikaji secara dialektologis, dikarenakan bahasanya yang unik.
Selanjutnya, penelitian ini juga diharapkan berguna sebagai bahan masukan.

5. Hipotesis
Berdasarkan pengamatan kami saat melakukan penelitian, ternyata masyarakat tengger masih mempertahankan bahasa daerahnya.

6. Metode Penelitian
Metodelogi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan cara tanya-jawab (wawancara) terhadap masyarakat suku tengger serta dengan mengamati tingkah laku para masyarakat suku tengger yang bertanggal 4-6 Januari 2013 di desa Ngadisari Kec. Sukapura Kab. Probolinggo.

 7. Sasaran Wawancara
a.      Tokoh masyarakat atau perangkat desa.
b.      Anggota masyarakat yang berusia 17 th ke atas
















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Bahasa Tengger
Bahasa Tengger dituturkan di daerah Gunung Bromo. Secara linguistik, bahasa Tengger termasuk rumpun bahasa Jawa dalam cabang Melayu-Polinesia dari rumpun bahasa Austronesia (Sansekerta).
Ada yang menganggap bahasa Tengger itu turunan basa Kawi (Jawa Dipa/Jawa Kuno) dan banyak mempertahankan kalimat-kalimat kuno yang sudah tak digunakan lagi dalam Bahasa Jawa modern.
Ditinjau dari arti etimologis, bahasa Tengger berarti “berdiri tegak”, diam tanpa bergerak. Apabila dikaitkan dengan kepercayaan yang hidup dalam masyarakatnya, tengger diartikan sebagai tengering budhi luhur. Tengger berarti tanda atau ciri yang memberikan sifat khusus pada sesuatu. Dengan kata lain tengger dapat berarti “sifat-sifat budi pekerti luhur”. Arti yang kedua adalah “daerah pegunungan”, dimana masyarakat tengger memang berada di lereng-lereng pegunungan.
Suku Tengger itu memiliki Bahasa yang sangat unik dan berbeda dengan Bahasa jawa. Kelihatannya justru menyerupai Bahasa Osing (Banyuwangi), karena merupakan adopsi dari Bahasa Jawa Kuno atau dan Bahasa Sansekerta. Selain itu Suku Tengger mudah dikenal melalui  cara berpakaiaannya dengan menggunakan Sarung. Sarung bagi Suku Tengger adalah baju atau jaket penghangat mereka. Mereka menamakannya : Kawengan. Hal tersebut sangat dimaklumi, karena mereka hidup di sekitar Pegunungan Bromo yang memagar gelang lingkar. Selain itu sarung adalah baju penghangat yang mudah didapat dan murah.
 Bahasa yang berkembang di masyarakat suku Tengger diyakini sebagai dialek asli orang-orang Majapahit. Bahasa yang digunakan dalam kitab-kitab mantra pun menggunakan tulisan Jawa Kawi. Suku Tengger merupakan salah satu sub kelompok orang Jawa yang mengembangkan variasai budaya yang khas. Kekhasan ini bisa dilihat dari bahasanya, dimana mereka menggunakan bahasa Jawa dialek tengger, tanpa tingkatan bahasa sebagaimana yang ada pada tingkatan bahasa dalam bahasa Jawa pada umumnya.

2.1.1 Sejarah terbentuknya Masyarakat Tengger
Menurut kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Tengger yang bersumber dari wawancara dengan tokoh masyarakat/sesepuh desa pada tanggal 5 Januari 2013, nenek moyang mereka berasal dari titisan kaum Brahmana, yaitu Joko Seger dan Dewi Roro Anteng. Selanjutnya untuk mengenang keduanya, maka masing-masing kata tersebut digabungkan sehingga terbentuk kata “Tengger”. Kata itu mempunyai makna yang dari bahasa Tenggernya yaitu tenggering budi luhur, yang artinya sebagai tempat yang didiami oleh orang-orang yang berbudi luhur.
Asal mula cerita rakyat tersebut berasal dari bahasa yang menjadi alat komunikasi masyarakat Tengger. Identifikasi bahasa dan cara berpakaian mereka diketahui ketika turun gunung, maka orang luar sekitar Pegunungan Tengger atau orang bawah dapat mengidentifikasi (tetenger) bahwa mereka adalah orang atas atau orang Tengger.
Dilihat secara filosofis, perkampungan orang-orang Tengger sifatnya masih berkelompok dan menyebar. Jarak rumah antara peduduk yang satu dengan penduduk yang lain sangat rapat, sehingga dapat dikatakan bahwa hampir tidak ada batasan yang tegas antara pagar rumah orang yang satu dengan pagar yang lain, seperti halnya terlihat pada rumah-rumah yang ada di daerah perkotaan.
Keadaan semacam ini hampir merata diseluruh daerah pedesaan yang dihuni oleh masyarakat Tengger. Menurut mereka, bentuk perkampungan yang seperti ini adalah pertanda atau menunjukkan sikap hidup orang Tengger yang suka bekerjasama dan gotong-royong.

Rumah dan lingkungan sebagai tempat tinggal orang-orang Tengger memiliki keunikan tersendiri. Bangunan-bangunan penting bagi masyarakat tengger terdiri dari bangunan-bangunan keagamaan dan tempat-tempat suci, bangunan-bangunan perumahan atau bangunan-bangunan yang digunakan untuk tempat tinggal dan bangunan- bangunan yang befungsi sosial. Bangunan suci terdiri dari bangunan untuk memuja dan mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai manifestasinya, yaitu sanggar pamujan.



2.2  Perkembangan Bahasa Tengger ditinjau dari Waktu
   Asal mula cerita rakyat tersebut berasal dari bahasa yang menjadi alat komunikasi masyarakat Tengger. Beberapa kata yang terdapat dalam Bahasa Tengger terdapat kata-kata yang khas dan tidak sama dengan kata-kata yang dipakai oleh orang bawah (wong Ngare), misalnya dalam penyebutan aku (laki-laki) dalam bahasa Tengger disebut reyang dan penyebutan aku (perempuan) disebut isun.
Istilah "bahasa Tengger" merupakan istilah yang berkenaan dengan pendapat penuturnya, sedangkan istilah "subdialek Tengger" merupakan istilah yang berkenaan dengan hasil penghitungan linguistis (secara dialektometris) oleh Kisyani-Laksono dalam makalahnya yang berjudul “Kajian Dialektologis”.
Deskripsi bentuk-bentuk linguistik bahasa Tengger ini menunjukkan banyaknya bentuk yang memang masih dipelihara dan dipertahankan penggunaannnya sampai saat ini, misalnya :
·  Bentuk tiga suku : k\tumbar 'ketumbar', l\mbay¬÷ 'daun kacang panjang'; berian :  pisanan dan kawitan 'pertama'.
·  ir¬÷ 'hidung', sira 'kamu' (digunakan kepada yang lebih muda), rika ‘kamu’ (digunakan terhadap yang lebih tua), isun 'saya', aran 'nama',  b\sali 'pandai besi', w\lula÷ 'kulit binatang', wragil 'anak termuda', wudun 'bisul'.
            Dari deskripsi tersebut tampak beberapa kekhasan bentuk linguistik di daerah Tengger yang ditandai oleh beberapa hal, yaitu :
a.    Adanya perbedaan  jumlah fonem vokal 
     Ada enam vokal, yaitu /a/, /i/, /u/, /e/, /\/, /o/ dalam  bahasa Tengger.
b.    Bunyi [i] atau [u] pada posisi penultima (adalah suku kata sebelum suku kata terakhir) dalam bahasa Tengger
     Misalnya : tim¬n > tem¬n 'ketimun'.
c.    Adanya leksikon (koleksi leksem/satuan kata terkecil pada suatu bahasa) khusus atau pola  yang  dikenal sebagai  merk dialek.
     Misal : mata = 'mata', sira gawa  = 'kau bawa', manja = 'menanam'.

 Karena masih dipertahankannya bahasa Tengger oleh suku Tengger sendiri, mengakibatkan tidak mengalami perubahan pada pelafalan/pengucapan bahasa daerah Tengger, juga kemunduran bahasa daerah tersebut. Dengan dilestarikannya bahasa Tengger dalam pengucapan maupun menggunaannya baik oleh generasi muda masyarakat Tengger, maupun oleh sesepuh masyarakat Tengger.
Bahasa asing yang dibawa oleh para wisatawan maupun pendatang, terbukti tidak dapat mengubah kondisi bahasa Tengger dari waktu ke waktu. Masyarakat Tengger menggunakan bahasa campuran jika mereka ingin berbicara dengan wisatawan juga pendatang. Hal itu dikarenakan sebagai bentuk adaptasi dan keinginan untuk menghormati para orang luar daerah Tengger.


2.3  Tindak Bahasa Masyarakat Tengger
Masyarakat Tengger yang tinggal di desa Ngadisari Kec. Sukapura Kab. Probolinggo merupakan masyarakat yang letak pemukimannya paling dekat dengan tempat wisata Kawah Bromo, sehingga interaksi masyarakatnya dengan pihak luar daerah Tengger lebih intens dibandingkan dengan masyarakat Tengger daerah lainnya.
Dalam berkomunikasi, mereka biasanya menyesuaikan diri dengan bahasa yang digunakan oleh lawan bicaranya. Jika berbicara dengan wisatawan lokal, mereka menggunakan bahasa nasional (bahasa Indonesia). Jika yang ditemui adalah orang jawa, mereka akan menggunakan bahasa jawa pada umumnya (bahasa jawa diluar daerah Tengger). Namun, jika berbicara dengan sesama masyarakat Tengger, mereka akan menggunakan bahasa sehari-hari mereka atau dialek bahasa Tengger.
Ada sedikit perbedaan pada bahasa Tengger dengan bahasa jawa yang biasa kami temui. Jika bahasa jawa umumnya biasa menggunakan vokal “o”, namun bahasa Tengger menggunakan vokal “a” (telah dijelaskan oleh kami deskripsi linguistik kekhasan bahasa Tengger pada hal. 10).
Beberapa kosakata bahasa Tengger dapat dilihat pada tabel dibawah ini dengan kosakata bahasa Jawa umum sebagai pembanding :
No
Bahasa Tengger
Bahasa Jawa
Arti
1.
Sira
Siro
Kamu (lebih muda)
2.
Rika
Riko
Kamu (lebih tua)
3.
Reyang
Kulo
Saya (laki-laki)
4.
Isun
Kulo
Saya (perempuan)
5.
Ana
Ono
Ada
6.
Parran
Opo
Apa
7.
Teka
Teko
Datang
8.
Ngapa
Ngopo
Ngapain
9.
Sega
Sego
Nasi
10.
Nana
Gak ono’
Tidak ada
Tabel 1. Perbandingan bahasa Tengger dengan bahasa Jawa.
Penggunaan bahasa Tengger  dikalangan masyarakat Tengger, tidak terdapat strata bahasa sebagaimana yang digunakan pada bahasa jawa umumnya, yakni terdapat bahasa jawa ngoko (kasar), bahasa jawa krama madya (agak halus), dan bahasa jawa krama inggil (halus). Biasanya, bahasa halus yang digunakan oleh masyarakat Tengger berkaitan dengan lawan bicara, biasanya kepada yang lebih tua atau yang lebih muda (lihat tabel 1).
Meskipun Madura dan Tengger merupakan kawasan provinsi Jawa, namun tak ada kekerabatan bahasa yang terjalin antara Bahasa Jawa dan Madura, sehingga klarifikasi makna atau arti harus sering dilakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman, karena pada awalnya kami sering terjadi miss understanding saat mencoba mengenal masyarakat Tengger melalui percakapan-percakapan singkat.
Misalnya saat kami ditanya oleh salah seorang masyarakat Tengger, beliau mengatakan sejumlah kalimat kepada kami yang jujur kami tak mengerti arti dari kalimat yang dilontarkannya, sehingga yang terdengar oleh kami hanyalah kata “ika”. Kami mereka-reka arti kata dalam kalimat tersebut, yang kami pikir kalimat tersebut menyatakan sebuah cerita atau ajakan atau pemberitahuan, namun setelah beliau menggunakan gerakan anggota tubuh (non-linguistik) barulah kami mengerti bahwa ternyata kalimat tersebut adalah sebuah pertanyaan dimana kata “ika” dimaksudkan adalah kata “iku” (dalam bahasa jawa umumnya) yang berarti kata penunjuk “itu” dalam bahasa Indonesia.
Juga saat kami ingin meminjam sebuah pisau dari salah satu warga. Karena kami tidak tahu mengenai bahasa Tengger, kami mencoba menggunakan bahasa Indonesia, “Ibu, saya ingin pinjam pisau!”. Yang ditanya justru terlihat heran. Kami ulangi lagi pernyataan tersebut hingga beberapa kali, namun ekspresi wajah ibu tersebut tidak juga berubah. Hingga pada akhirnya seorang lelaki paruh baya yang baru saja datang dan berdiri di dekat si ibu mengatakan “Ladding, ladding...” dan barulah si ibu mengerti bahwa yang dimaksud kami adalah pisau, namun bahasa Tengger, “ladding”.
Kebiasaan berbahasa masyarakat Tengger ini yang tidak terjadi perkembangan dari segi pemakai di masyarakat, menjadikan bahasa Tengger bahasa yang unik untuk dikaji.
Dibawah ini adalah merupakan beberapa kebiasaan berbahasa masyarakat Tengger dengan menggunakan bahasa Tengger dalam beberapa situasi :
1.    “Andom selamet...”          merupakan kebiasaan berbahasa masyarakat Tengger saat tamu akan pulang. Yang berarti “semoga selamat”. Berasal dari kata “andom”         “pandom” = bagi-bagi.
2.    “Dooh, kebenaran awak ole hasel”    merupakan kebiasaan berbahasa masyarakat Tengger saat senang karena menerima sesuatu. Yang berarti “Duh, syukur saya dapat hasilnya”.
3.    “Matur nuwun gusti, wes di ke’i rejeki”        merupakan kebiasaan berbahasa masyarakat Tengger saat senang karena segala urusannya lancar. Yang berarti “Terima kasih Tuhan, telah diberikan rejeki”.
4.    “Delondonge sapa ora reka!”     merupakan kebiasaan berbahasa masyarakat Tengger saat marah/emosi. Yang berarti “Anak siapa itu, tidak sopan!”.

Nada bahasa daerah Tengger pada saat marah, senang, sedih, bahagia, takut, cemas, khawatir, susah, capek, sakit, dan gembira sama dengan nada bahasa orang-orang pada umumnya. Seperti nada pada saat marah, kebanyakan orang akan refleks mengumpat “asu!” yang berarti “anjing” dalam bahasa Indonesia. Itu merupakan ungkapan kasar, namun telah menjadi kebiasaan.
Adanya dialek bahasa Tengger yang unik ini, diakibatkan karena selama jaman penjajahan Belanda, daerah Tengger terisolasi dari daerah luar. Sehingga dalam perkembangan selanjutnya, bahasa yang dipakai memiliki perbedaan dengan masyarakat diluar daerah Tengger.





BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bahasa Tengger dituturkan di daerah Gunung Bromo. Secara linguistik, bahasa Tengger termasuk rumpun bahasa Jawa dalam cabang Melayu-Polinesia dari rumpun bahasa Austronesia (Sansekerta).
Ada yang menganggap bahasa Tengger itu turunan basa Kawi (Jawa Dipa/Jawa Kuno) dan banyak mempertahankan kalimat-kalimat kuno yang sudah tak digunakan lagi dalam Bahasa Jawa modern.
Asal mula cerita rakyat tersebut berasal dari bahasa yang menjadi alat komunikasi masyarakat Tengger. Beberapa kata yang terdapat dalam Bahasa Tengger terdapat kata-kata yang khas dan tidak sama dengan kata-kata yang dipakai oleh orang bawah (wong Ngare), misalnya dalam penyebutan aku (laki-laki) dalam bahasa Tengger disebut reyang dan penyebutan aku (perempuan) disebut isun.
Karena masih dipertahankannya bahasa Tengger oleh suku Tengger sendiri, mengakibatkan tidak mengalami perubahan pada pelafalan/pengucapan bahasa daerah Tengger, juga kemunduran bahasa daerah tersebut. Dengan dilestarikannya bahasa Tengger dalam pengucapan maupun menggunaannya baik oleh generasi muda masyarakat Tengger, maupun oleh sesepuh masyarakat Tengger.
Adanya dialek bahasa Tengger yang unik ini, diakibatkan karena selama jaman penjajahan Belanda, daerah Tengger terisolasi dari daerah luar. Sehingga dalam perkembangan selanjutnya, bahasa yang dipakai memiliki perbedaan dengan masyarakat diluar daerah Tengger.

3.2 Kritik dan Saran
Kami mengharap kritik dan saran yang membangun dari para pembaca terhadap hasil laporan penelitian bahasa kami.


DAFTAR PUSTAKA

1.    Soedjito; Sunoto; Marsoedi Oetama, Abdul rachman; Mansur Hasan. 1986. Struktur Bahasa Jawa Dialek Tengger. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
2.    M.Hum. Kisyani-Laksono : 2001. Ringkasan Desertasi “Kajian Dialektologis”. Surabaya.
3.    Wawancara dan pengamatan pada tokoh dan masyarakat serta perangkat desa Ngadisari Kec. Sukapura Kab. Probolinggo.



LAMPIRAN

Sasaran Wawancara
a.      Tokoh masyarakat atau perangkat desa.
·      Nama                            : Ion
·      Alamat                          : Desa Ngadisari
·      Tempat tanggal lahir     : Ngadisari, 1944
·      Kewarganegaraan         : Indonesia
·      Agama                          : Kejawen
·      Status                            : Menikah
·      Jabatan                          : Pemilik Cafe Lava dan Home Stay serta Tokoh
                                 masyarakat/perangkat desa.
·      Umur                             : 69 Tahun


Tidak ada komentar:

Posting Komentar