LAPORAN PERTANGGUNG-JAWABAN
KEGIATAN STUDI BAHASA (S.B)
MAHASISWA SEMESTER III
STKIP PGRI SUMENEP
Tahun
2012/2013
STKIP
PGRI Sumenep
Periode 2011-2012
KATA
PENGANTAR
Tiada kata yang mampu
terucap, selain ungkapan syukur yang mampu diucapkan kepada Ilahi Rabbi, Tuhan
Semesta Alam. Dia-lah pengatur apa-apa yang ada dijagad raya ini, yang tahu apa
yang terbaik bagi para hamba-Nya. Yang dengan curahan dan limpahan petunjuk
serta hidayah teruntuk hamba-Nya, yang tidak akan pernah ada habisnya.
Alhamdulillah, kami telah menyelesaikan laporan penelitian dengan
judul :
MENGANALISA DIALEK BAHASA TENGGER
Laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Sosiolinguistik dan
psikolinguistik”. Selain itu juga, tentunya tidak terlepas dari peran berbagai pihak
yang telah berjasa membantu kami dalam menyelesaikan laporan ini.
DAFTAR ISI
Halaman judul......................................................................................................... i
Kata
Pengantar......................................................................................................... 1
Daftar Isi.................................................................................................................. 2
BAB
I PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Masalah.......................................................................... 3
1.2
Rumusan
Masalah................................................................................... 4
1.3
Tujuan .................................................................................................... 4
1.4
Kegunaan................................................................................................ 4
1.5
Hipotesis................................................................................................. 5
1.6
Metode
Penulisan................................................................................... 5
1.7
Sasaran
Wawancara................................................................................ 5
BAB
II PEMBAHASAN
2.1
Sejarah
Bahasa
Tengger........................................................................ 6
2.2
Perkembangan
Bahasa Tengger ditinjau dari Waktu............................ 9
2.3
Tindak Bahasa
Masyarakat Tengger..................................................... 11
BAB
III PENUTUP
3.1
Kesimpulan............................................................................................. 14
3.2 Kritik dan
saran....................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 15
LAMPIRAN............................................................................................................. 16
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Manusia
merupakan makhluk sosial, manusia melakukan interaksi, bekerjasama, dan
menjalin kontak sosial di dalam masyarakat. Dalam melakukan hal tersebut,
manusia membutuhkan sebuah alat komunikasi yang berupa bahasa. Bahasa
memungkinkan manusia membentuk kelompok sosial, sebagai pemenuhan kebutuhannya
untuk hidup bersama. Dalam kelompok sosial tersebut manusia terikat secara
individu. Keterikatan individu-individu dalam kelompok ini sebagai identitas
diri dalam kelompok tersebut. Setiap individu adalah anggota dari kelompok
sosial tertentu yang tunduk pada seperangkat aturan yang disepakati dalam
kelompok tersebut. Salah satu aturan yang terdapat di dalamnya adalah
seperangkat aturan bahasa.
Bahasa
dalam lingkungan sosial masyarakat satu dengan yang lainnya berbeda. Adanya
kelompok-kelompok sosial tersebut menyebabkan bahasa yang dipergunakan beragam.
Keragaman bahasa ini timbul sebagai akibat dari kebutuhan penutur yang memilih
bahasa yang digunakan agar sesuai dengan situasi konteks sosialnya. Oleh karena
itu, ragam bahasa timbul bukan karena kaidah-kaidah kebahasaan, melainkan
disebabkan oleh kaidah-kaidah sosial yang beraneka ragam.
Dalam
ragam bahasa setidaknya terdapat tiga hal, yaitu pola-pola bahasa yang sama,
pola-pola bahasa yang dapat dianalis secara deskriptif, dan pola-pola yang
dibatasi oleh makna tersebut dipergunakan oleh penuturnya untuk berkomunikasi.
ragam bahasa juga dapat dilihat dari enam segi, yaitu tempat, waktu, pengguna,
situasi, dialek yang dihubungkan dengan sapaan, status, dan penggunaan ragam
bahasa (Pateda dalam Chaer 1987: 52).
Bahasa
merupakan fenomena sosial. Kita tidak dapat memisahkan bahasa dari kebudayaan
di dalam masyarakat, sebab hubungan antara keduanya sangat erat. Bahasa itu
sudah menyatu benar dengan orang yang menggunakannya dan memlikinya. Karena
bahasa itu berkembang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik kebudayaan di
dalam masyarakat, maka setiap bahasa merefleksikan kebudayaan masyarakat
pemakainya. Bahasa itu merupakan bagian dari sistem nilai, kebiasaan, dan
keyakinan yang kompleks yang membentuk suatu kebudayaan.
Bahasa
dan masyarakat, bahasa dan kemasyarakatan, dua hal yang bertemu di satu titik,
artinya antara bahasa dan masyarakat tidak akan pernah terpisahkan. Bahasa
sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer, digunakan oleh anggota masayarakat
sebagai alat komunikasi, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri. Bahasa
begitu melekat erat, menyatu jiwa di setiap penutur di dalam masyarakat. Ia
laksana sebuah senjata ampuh untuk mempengaruhi keadaan masyarakat dan
kemasyarakatan. Fungsi bahasa sebagai alat untuk berinteraksi atau
berkomunikasi dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau
juga perasaan di dalam masyarakat inilah di namakan fungsi bahasa secara
tradisional.
2. Rumusan
Masalah
Rumusan masalah pada laporan
penelitian ini :
· Bagaimana sejarah bahasa tengger?
· Bagaimana perkembangan bahasa yang terjadi
terhadap bahasa tengger?
· Bagaimana penguasaan bahasa daerah terhadap bahasa
tengger oleh masyarakat sekitar?
3.Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah :
(1) Mengidentifikasikan adanya kekerabatan bahasa pada bahasa tengger,
sekaligus adanya variasi bahasa pada dialek bahasa tengger ditinjau dari segi
waktu, serta tindak bahasa masyarakat Tengger.
4. Kegunaan
Bahasa Tennger di Kota Probolinggo, Jawa Timur ini menarik untuk dikaji secara dialektologis, dikarenakan bahasanya yang unik.
Selanjutnya, penelitian ini juga diharapkan berguna
sebagai bahan masukan.
5. Hipotesis
Berdasarkan pengamatan kami saat melakukan
penelitian, ternyata masyarakat
tengger masih mempertahankan bahasa daerahnya.
6. Metode Penelitian
Metodelogi yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu dengan cara tanya-jawab (wawancara) terhadap masyarakat
suku tengger serta dengan mengamati tingkah laku para masyarakat suku tengger
yang bertanggal 4-6 Januari 2013 di desa Ngadisari Kec. Sukapura Kab.
Probolinggo.
7. Sasaran Wawancara
a.
Tokoh
masyarakat atau perangkat desa.
b.
Anggota
masyarakat yang berusia 17 th ke atas
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Sejarah Bahasa Tengger
Bahasa Tengger dituturkan di daerah Gunung Bromo. Secara linguistik, bahasa Tengger termasuk rumpun bahasa
Jawa dalam cabang Melayu-Polinesia dari rumpun
bahasa Austronesia
(Sansekerta).
Ada
yang menganggap bahasa Tengger itu turunan basa Kawi (Jawa
Dipa/Jawa Kuno) dan banyak mempertahankan kalimat-kalimat kuno yang sudah
tak digunakan lagi dalam Bahasa Jawa modern.
Ditinjau dari arti etimologis, bahasa Tengger
berarti “berdiri tegak”, diam tanpa
bergerak. Apabila dikaitkan dengan kepercayaan yang hidup dalam masyarakatnya, tengger diartikan sebagai tengering budhi luhur. Tengger berarti tanda atau ciri yang
memberikan sifat khusus pada sesuatu. Dengan kata lain tengger dapat berarti “sifat-sifat
budi pekerti luhur”. Arti yang kedua adalah “daerah pegunungan”, dimana masyarakat tengger memang berada di
lereng-lereng pegunungan.
Suku Tengger itu memiliki
Bahasa yang sangat unik dan berbeda dengan Bahasa jawa. Kelihatannya justru
menyerupai Bahasa Osing (Banyuwangi), karena merupakan adopsi dari
Bahasa Jawa Kuno atau dan Bahasa Sansekerta.
Selain itu Suku Tengger mudah dikenal melalui cara berpakaiaannya dengan
menggunakan Sarung. Sarung bagi Suku Tengger adalah baju atau jaket penghangat
mereka. Mereka menamakannya : Kawengan.
Hal tersebut sangat dimaklumi, karena mereka hidup di sekitar Pegunungan Bromo
yang memagar gelang lingkar. Selain itu sarung adalah baju penghangat yang
mudah didapat dan murah.
Bahasa yang berkembang di masyarakat suku Tengger diyakini sebagai
dialek asli orang-orang Majapahit. Bahasa yang digunakan dalam kitab-kitab
mantra pun menggunakan tulisan Jawa Kawi. Suku Tengger merupakan salah satu sub
kelompok orang Jawa yang mengembangkan variasai budaya yang khas. Kekhasan ini
bisa dilihat dari bahasanya, dimana mereka menggunakan bahasa Jawa dialek
tengger, tanpa tingkatan bahasa sebagaimana yang ada pada tingkatan bahasa
dalam bahasa Jawa pada umumnya.
2.1.1 Sejarah terbentuknya
Masyarakat Tengger
Menurut kepercayaan yang dianut oleh
masyarakat Tengger yang bersumber dari wawancara dengan tokoh masyarakat/sesepuh desa pada
tanggal 5 Januari 2013,
nenek moyang mereka berasal dari titisan kaum Brahmana, yaitu Joko Seger dan
Dewi Roro Anteng. Selanjutnya untuk mengenang keduanya, maka masing-masing kata
tersebut digabungkan sehingga terbentuk kata “Tengger”. Kata itu mempunyai
makna yang dari bahasa Tenggernya yaitu tenggering budi luhur, yang artinya
sebagai tempat yang didiami oleh orang-orang yang berbudi luhur.
Asal
mula cerita rakyat tersebut berasal dari bahasa yang menjadi alat komunikasi
masyarakat Tengger. Identifikasi bahasa dan cara
berpakaian mereka diketahui ketika turun gunung, maka orang luar sekitar
Pegunungan Tengger atau orang bawah dapat mengidentifikasi (tetenger) bahwa
mereka adalah orang atas atau orang Tengger.
Dilihat
secara filosofis, perkampungan orang-orang Tengger sifatnya masih berkelompok
dan menyebar. Jarak rumah antara peduduk yang satu dengan penduduk yang lain
sangat rapat, sehingga dapat dikatakan bahwa hampir tidak ada batasan yang
tegas antara pagar rumah orang yang satu dengan pagar yang lain, seperti halnya
terlihat pada rumah-rumah yang ada di daerah perkotaan.
Keadaan
semacam ini hampir merata diseluruh daerah pedesaan yang dihuni oleh masyarakat
Tengger. Menurut mereka, bentuk perkampungan yang seperti
ini
adalah pertanda atau menunjukkan sikap hidup orang Tengger yang suka
bekerjasama dan gotong-royong.
Rumah
dan lingkungan sebagai tempat tinggal orang-orang Tengger memiliki keunikan
tersendiri. Bangunan-bangunan penting bagi masyarakat tengger terdiri dari
bangunan-bangunan keagamaan dan tempat-tempat suci, bangunan-bangunan perumahan
atau bangunan-bangunan yang digunakan untuk tempat tinggal dan bangunan-
bangunan yang befungsi sosial. Bangunan suci terdiri dari
bangunan untuk memuja dan mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa dengan
berbagai manifestasinya, yaitu sanggar pamujan.
2.2 Perkembangan Bahasa Tengger ditinjau dari
Waktu
Asal mula cerita rakyat
tersebut berasal dari bahasa yang menjadi alat komunikasi masyarakat Tengger.
Beberapa kata yang terdapat dalam Bahasa Tengger terdapat kata-kata yang khas
dan tidak sama dengan kata-kata yang dipakai oleh orang bawah (wong Ngare),
misalnya dalam penyebutan aku (laki-laki) dalam bahasa Tengger disebut reyang
dan penyebutan aku (perempuan) disebut isun.
Istilah "bahasa Tengger" merupakan istilah yang berkenaan dengan pendapat penuturnya,
sedangkan istilah "subdialek Tengger"
merupakan istilah yang berkenaan dengan hasil penghitungan linguistis (secara
dialektometris) oleh Kisyani-Laksono dalam makalahnya yang berjudul “Kajian
Dialektologis”.
Deskripsi bentuk-bentuk linguistik bahasa Tengger ini menunjukkan
banyaknya bentuk yang memang masih dipelihara dan dipertahankan penggunaannnya sampai saat ini,
misalnya :
· Bentuk tiga suku : k\tumbar 'ketumbar', l\mbay¬÷
'daun kacang panjang'; berian : pisanan dan kawitan 'pertama'.
· ir¬÷ 'hidung', sira 'kamu' (digunakan kepada
yang lebih muda), rika ‘kamu’
(digunakan terhadap yang lebih tua), isun 'saya', aran 'nama', b\sali 'pandai besi', w\lula÷ 'kulit binatang', wragil
'anak termuda', wudun 'bisul'.
Dari deskripsi tersebut tampak beberapa
kekhasan bentuk linguistik di daerah
Tengger yang ditandai oleh beberapa hal, yaitu :
a. Adanya perbedaan jumlah fonem
vokal
Ada enam
vokal, yaitu /a/, /i/, /u/, /e/, /\/, /o/
dalam bahasa Tengger.
b.
Bunyi [i] atau [u] pada posisi
penultima (adalah
suku kata sebelum suku kata terakhir) dalam bahasa Tengger
Misalnya : tim¬n > tem¬n 'ketimun'.
c. Adanya leksikon (koleksi leksem/satuan kata terkecil pada
suatu bahasa) khusus atau pola yang
dikenal sebagai merk dialek.
Misal : mata = 'mata', sira gawa = 'kau bawa', manja = 'menanam'.
Karena masih
dipertahankannya bahasa Tengger oleh suku Tengger sendiri, mengakibatkan tidak
mengalami perubahan pada pelafalan/pengucapan bahasa daerah Tengger, juga
kemunduran bahasa daerah tersebut. Dengan dilestarikannya bahasa Tengger dalam
pengucapan maupun menggunaannya baik oleh generasi muda masyarakat Tengger,
maupun oleh sesepuh masyarakat Tengger.
Bahasa asing yang dibawa oleh para wisatawan maupun
pendatang, terbukti tidak dapat mengubah kondisi bahasa Tengger dari waktu ke waktu.
Masyarakat Tengger menggunakan bahasa campuran jika mereka ingin berbicara
dengan wisatawan juga pendatang. Hal itu dikarenakan sebagai bentuk adaptasi
dan keinginan untuk menghormati para orang luar daerah Tengger.
2.3 Tindak Bahasa Masyarakat Tengger
Masyarakat Tengger yang tinggal di desa Ngadisari Kec.
Sukapura Kab. Probolinggo merupakan masyarakat yang letak pemukimannya paling
dekat dengan tempat wisata Kawah Bromo, sehingga interaksi masyarakatnya dengan
pihak luar daerah Tengger lebih intens
dibandingkan dengan masyarakat Tengger daerah lainnya.
Dalam berkomunikasi, mereka biasanya menyesuaikan diri
dengan bahasa yang digunakan oleh lawan bicaranya. Jika berbicara dengan
wisatawan lokal, mereka menggunakan bahasa nasional (bahasa Indonesia). Jika
yang ditemui adalah orang jawa, mereka akan menggunakan bahasa jawa pada
umumnya (bahasa jawa diluar daerah Tengger). Namun, jika berbicara dengan
sesama masyarakat Tengger, mereka akan menggunakan bahasa sehari-hari mereka
atau dialek bahasa Tengger.
Ada sedikit perbedaan pada bahasa Tengger dengan bahasa
jawa yang biasa kami temui. Jika bahasa jawa umumnya biasa menggunakan vokal
“o”, namun bahasa Tengger menggunakan vokal “a” (telah dijelaskan oleh kami
deskripsi linguistik kekhasan bahasa Tengger pada hal. 10).
Beberapa kosakata bahasa Tengger dapat dilihat pada tabel
dibawah ini dengan kosakata bahasa Jawa umum sebagai pembanding :
No
|
Bahasa Tengger
|
Bahasa Jawa
|
Arti
|
1.
|
Sira
|
Siro
|
Kamu (lebih muda)
|
2.
|
Rika
|
Riko
|
Kamu (lebih tua)
|
3.
|
Reyang
|
Kulo
|
Saya (laki-laki)
|
4.
|
Isun
|
Kulo
|
Saya (perempuan)
|
5.
|
Ana
|
Ono
|
Ada
|
6.
|
Parran
|
Opo
|
Apa
|
7.
|
Teka
|
Teko
|
Datang
|
8.
|
Ngapa
|
Ngopo
|
Ngapain
|
9.
|
Sega
|
Sego
|
Nasi
|
10.
|
Nana
|
Gak ono’
|
Tidak ada
|
Tabel 1. Perbandingan
bahasa Tengger dengan bahasa Jawa.
Penggunaan bahasa Tengger
dikalangan masyarakat Tengger, tidak terdapat strata bahasa sebagaimana
yang digunakan pada bahasa jawa umumnya, yakni terdapat bahasa jawa ngoko
(kasar), bahasa jawa krama madya (agak halus), dan bahasa jawa krama inggil
(halus). Biasanya, bahasa halus yang digunakan oleh masyarakat Tengger
berkaitan dengan lawan bicara, biasanya kepada yang lebih tua atau yang lebih
muda (lihat tabel 1).
Meskipun Madura dan Tengger merupakan kawasan provinsi
Jawa, namun tak ada kekerabatan bahasa yang terjalin antara Bahasa Jawa dan
Madura, sehingga klarifikasi makna atau arti harus sering dilakukan agar tidak
terjadi kesalahpahaman, karena pada awalnya kami sering terjadi miss understanding saat mencoba mengenal
masyarakat Tengger melalui percakapan-percakapan singkat.
Misalnya saat kami ditanya oleh salah seorang masyarakat
Tengger, beliau mengatakan sejumlah kalimat kepada kami yang jujur kami tak
mengerti arti dari kalimat yang dilontarkannya, sehingga yang terdengar oleh
kami hanyalah kata “ika”. Kami mereka-reka arti kata dalam kalimat tersebut,
yang kami pikir kalimat tersebut menyatakan sebuah cerita atau ajakan atau
pemberitahuan, namun setelah beliau menggunakan gerakan anggota tubuh
(non-linguistik) barulah kami mengerti bahwa ternyata kalimat tersebut adalah
sebuah pertanyaan dimana kata “ika” dimaksudkan adalah kata “iku” (dalam bahasa
jawa umumnya) yang berarti kata penunjuk “itu” dalam bahasa Indonesia.
Juga saat kami ingin meminjam sebuah pisau dari salah
satu warga. Karena kami tidak tahu mengenai bahasa Tengger, kami mencoba
menggunakan bahasa Indonesia, “Ibu, saya ingin pinjam pisau!”. Yang ditanya
justru terlihat heran. Kami ulangi lagi pernyataan tersebut hingga beberapa
kali, namun ekspresi wajah ibu tersebut tidak juga berubah. Hingga pada
akhirnya seorang lelaki paruh baya yang baru saja datang dan berdiri di dekat
si ibu mengatakan “Ladding, ladding...” dan barulah si ibu mengerti bahwa yang
dimaksud kami adalah pisau, namun bahasa Tengger, “ladding”.
Kebiasaan berbahasa masyarakat Tengger ini yang tidak
terjadi perkembangan dari segi pemakai
di masyarakat, menjadikan bahasa Tengger bahasa yang unik untuk dikaji.
Dibawah ini adalah merupakan beberapa kebiasaan berbahasa
masyarakat Tengger dengan menggunakan bahasa Tengger dalam beberapa situasi :
1.
“Andom selamet...” merupakan
kebiasaan berbahasa masyarakat Tengger saat tamu akan pulang. Yang berarti
“semoga selamat”. Berasal dari kata “andom” “pandom” = bagi-bagi.
2.
“Dooh, kebenaran awak ole hasel” merupakan kebiasaan berbahasa masyarakat
Tengger saat senang karena menerima sesuatu. Yang berarti “Duh, syukur saya
dapat hasilnya”.
3.
“Matur nuwun gusti, wes di ke’i rejeki” merupakan kebiasaan berbahasa
masyarakat Tengger saat senang karena segala urusannya lancar. Yang berarti “Terima
kasih Tuhan, telah diberikan rejeki”.
4.
“Delondonge sapa ora reka!”
merupakan kebiasaan berbahasa masyarakat Tengger saat marah/emosi. Yang
berarti “Anak siapa itu, tidak sopan!”.
Nada bahasa daerah Tengger pada saat marah, senang,
sedih, bahagia, takut, cemas, khawatir, susah, capek, sakit, dan gembira sama
dengan nada bahasa orang-orang pada umumnya. Seperti nada pada saat marah,
kebanyakan orang akan refleks mengumpat “asu!” yang berarti “anjing” dalam
bahasa Indonesia. Itu merupakan ungkapan kasar, namun telah menjadi kebiasaan.
Adanya dialek bahasa Tengger yang unik ini, diakibatkan karena
selama jaman penjajahan Belanda, daerah Tengger terisolasi dari daerah luar.
Sehingga dalam perkembangan selanjutnya, bahasa yang dipakai memiliki perbedaan
dengan masyarakat diluar daerah Tengger.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bahasa Tengger dituturkan di daerah Gunung Bromo. Secara linguistik, bahasa Tengger termasuk rumpun bahasa
Jawa dalam cabang Melayu-Polinesia dari rumpun
bahasa Austronesia (Sansekerta).
Ada
yang menganggap bahasa Tengger itu turunan basa Kawi (Jawa
Dipa/Jawa Kuno) dan banyak mempertahankan kalimat-kalimat kuno yang sudah
tak digunakan lagi dalam Bahasa Jawa modern.
Asal
mula cerita rakyat tersebut berasal dari bahasa yang menjadi alat komunikasi
masyarakat Tengger. Beberapa kata yang terdapat dalam Bahasa Tengger terdapat
kata-kata yang khas dan tidak sama dengan kata-kata yang dipakai oleh orang
bawah (wong Ngare), misalnya dalam penyebutan aku (laki-laki) dalam bahasa Tengger
disebut reyang dan penyebutan aku (perempuan) disebut isun.
Karena masih dipertahankannya bahasa Tengger oleh suku
Tengger sendiri, mengakibatkan tidak mengalami perubahan pada
pelafalan/pengucapan bahasa daerah Tengger, juga kemunduran bahasa daerah tersebut.
Dengan dilestarikannya bahasa Tengger dalam pengucapan maupun menggunaannya
baik oleh generasi muda masyarakat Tengger, maupun oleh sesepuh masyarakat
Tengger.
Adanya dialek bahasa Tengger yang unik ini, diakibatkan
karena selama jaman penjajahan Belanda, daerah Tengger terisolasi dari daerah
luar. Sehingga dalam perkembangan selanjutnya, bahasa yang dipakai memiliki
perbedaan dengan masyarakat diluar daerah Tengger.
3.2 Kritik dan Saran
Kami mengharap kritik dan saran yang membangun dari para
pembaca terhadap hasil laporan penelitian bahasa kami.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Soedjito; Sunoto; Marsoedi Oetama,
Abdul rachman; Mansur Hasan. 1986. Struktur
Bahasa Jawa Dialek Tengger. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa.
3.
Wawancara dan
pengamatan pada tokoh dan masyarakat serta perangkat desa Ngadisari Kec.
Sukapura Kab. Probolinggo.
LAMPIRAN
Sasaran
Wawancara
a. Tokoh masyarakat atau perangkat desa.
·
Nama : Ion
·
Alamat : Desa Ngadisari
·
Tempat
tanggal lahir : Ngadisari, 1944
·
Kewarganegaraan : Indonesia
·
Agama : Kejawen
·
Status : Menikah
·
Jabatan : Pemilik Cafe Lava
dan Home Stay serta Tokoh
masyarakat/perangkat
desa.
·
Umur : 69 Tahun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar