1.
Berdasarkan
bentuk saluran yang digunakan
a. Wacana
lisan : merupakan rangkaian kalimat yang ditranskrip (disalin) dalam bahasa
lisan.
Contoh
: khutbah, siaran langsung acara tv atau radio.
b. Wacana tulis : teks yang berupa rangkaian
kalimat yang menggunakan ragam bahasa tulis.
Contoh
: berita koran, artikel, makalah.
2.
Berdasarkan
peserta komunikasi
a. Monolog
: Pembicaraan tunggal yang tidak memberikan kesempatan orang lain untuk
berbicara atau bertanya (pembicara memiliki kebebasan untuk menggunakan opini,
tanpa diselingi mitra tuturnya).
Contoh
: pidato, berdo’a, menebus dosa di greja.
b. Dialog : komunikasi yang dilakukan oleh dua
orang dan terjadi pergantian peran.
Contoh
: dialog antara penjual dengan pembeli.
c. Polilog
: komunikasi yang dilakukan oleh lebih dari dua orang dan terjadi pergantian
peran.
Contoh
: diskusi.
3.
Berdasarkan
tujuan komunikasi
a. Wacana
deskripsi : jenis wacana yang ditujukan kepada penerima pesan agar dapat
membentuk suatu citra (imajinasi) tentang suatu hal. Karangan ini berisi gambaran
mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar,
atau merasakan hal tersebut. Biasanya wacana ini banyak digunakan dalam katalog
penjualan, dan data-data kepolisian.
Ciri-ciri
wacana deskripsi :
-
Penggambaran tersebut dilakukan
sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera.
-
Membuat pembaca atau pendengar merasakan
sendiri atau mengalami sendiri.
-
Ditandai dengan penggunaan kata-kata
atau ungkapan detail atau terperinci.
-
Digunakannya kata-kata yang bersifat
evaluatif yang terlalu abstrak.
-
Umumnya menggunakan kata-kata yang
bersifat objektif dan menggambarkan sesuatu.
Contoh
:
SMA Negeri 1 Kota Sukabumi merupakan SMA tertua di Kota Sukabumi. SMA
Negeri 1 Kota Sukabumi lahir pada bulan Oktober 1961.
SMA Negeri 1 mempunyai jumlah murid kurang lebih 1.500 siswa dan mempunyai
4 lapangan, yaitu lapangan basket, lapangan volly, lapangan sepak bola, dan
lapangan badminton. Luas Smansa kuarng lebih 3 hektare dan memiliki 37 kelas
serta 71 guru mata pelajaran. Smansa juga memiliki kantin yang begitu banyak.
Ketika bel istirahat berbunyi, kanti di Smansa sangatlah ramai hingga
siswa-siswi pun harus berdesak-desakan untuk membeli makanan. kantin Smansa
menjual bermacam-macam makanan seperti gorengan, mie ayam, bas juice, dan masih
banyak lagi Ketika kantin ini ramai, suasaana pun menjadi sangat panas, berisik
dan kotor. Kantin di Smansa sungguh sempit sedangkan muridnya sangatlah banyak,
sehingga kantin ini pun menjadi hiruk-pikuk.
b. Wacana
Eksposisi : merupakan jenis wacana untuk menerangkan sesuatu hal kepada
penerima (pembaca) agar yang bersangkutan memahaminya. Dalam wacana ini,
diperlukan proses berpikir. Wacana ini digunakan untuk menjawab pertanyaan
“bagaimana”, karena menerangkan proses atau prosedur suatu aktivitas.
Wacana
ini isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian
dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Contoh : Jatuhnya
pesawat berkapasitas 266 penumpang airbus A300- 600 merupakan peristiwa kedua
bagi American Airlines beberapa detik lepas landas dari bandar udara
internasional O’Hare Chicago, tiba-tiba mesin kiri lepas dari dudukannya. Pilot
tidak bisa mengendalikan pesawat akibat keseimbangan pesawat mendadak berubah
dengan jatuhnya mesin berbobot sekitar 5 ton. Pesawat mendarat dan menghujam
tempat parkir kendaraan 31 detik kemudian dan 271 penumpang plus awak tewas
seketika. Kecelakaan lain menyangkut mesin copot dialami oleh pesawat kargo
El-Al milik flag carier Israel, 4 Oktober 1992. Mesin nomor empat atau yang
paling ujung pada sayap kanan, tiba-tiba lepas akibat dua fuse-pin (baut
kedudukan mesin) lepas. Disusul kemudian oleh mesin nomor tiga. Mendadak
kehilangan dua mesin, pilot tidak dapat mengendalikan pesawat dan menabrak
gedung bertingkat di Amsterdam, Belanda. Empat awak tewas berikut 47 penghuni
flat yang ditabrak.
Poin-poin penting dalam
wacana eksposisi
-
Data faktual, yaitu suatu kondisi yang benar-benar
terjadi, ada, dan dapat bersifat historis tentang bagaimana suatu alat bekerja,
bagaimana suatu peristiwa terjadi, dan sebagainya
-
Suatu analisis atau penafsiran objektif terhadap
seperangkat fakta
-
Fakta tentang seseorang yang berpegang teguh pada
suatu pendirian
c.
Wacana Argumentasi : merupakan jenis
wacana yang berusaha mempengaruhi pembaca atau pendengar agar menerima
pernyataan yang dipertahankan, baik yang didasarkan pertimbangan logis maupun
emosional. Sebuah wacana dikategorikan wacana argumentasi, apabila bertolak
dari tanya isu yang sifatnya kontroversi antara penutur dan mitra tutur.
Pengembangan
kerangka karangan argumentasi dapat berpola sebab-akibat, akibat-sebab, atau
pola pemecahan masalah.
Contoh
: Akibat perkembangan perekonomian dan pertambahan jumlah penduduk, komsumsi
energi di dalam negeri juga meningkat. Kebutuhan gas di pulau jawa pada tahun
2002 sebanyak 943 juta kaki kubik per hari (MMCFD). Tahun 2005, meningkat
menjadi 1,136 MMCFD. Pada tahun 2010, kebutuhan gas di pulau jawa diperkirakan
2.252 MMCFD dan tahun 2015, sebanyak 3,441 MMCFD.
d. Wacana
Persuasi : merupakan wacana yang bertujuan mempengaruhi mitra tutur untuk
melakukan tindakan sesuai yang diharapkan penuturnya. Terkadang, wacana
persuasi menggunakan alasan yang tidak rasional, misalnya iklan, rayuan.
e.
Wacana Narasi : merupakan jenis wacana
yang berisi berita. Wacana ini menceritakan sebuah kejadian secara berurutan
berdasarkan waktu kejadian (bisa juga tidak berurutan tapi alurnya
kesana-kemari. Narasi dibangun oleh sebuah alur cerita. Alur ini tidak akan
menarik jika tidak ada konfiks. Selain alur cerita, konfiks dan susunan
kronologis, ciri-ciri narasi lebih lengkap lagi diungkapkan oleh Atar Semi
(2003: 31) sebagai berikut:
-
Berupa cerita tentang peristiwa atau
pengaalaman penulis.
-
Kejadian atau peristiwa yang disampaikan
berupa peristiwa yang benar-benar terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi
atau gabungan keduanya.
Contoh :
Kesialanku
Tepat
pukul 11.00 WIB pekan lalu, aku baru pulang dari kuliah. Seperti biasanya aku
pulang kerumah naik ojek yang beraa didepan kampusku. Kebetulan saat itu
matahari sangat terik-teriknya sehingga hawa panas menyelimuti tubuhku dan lagi
ditambah rasa lapar yang sejak tadi menghantuiku, membuat suasana saat itu tak
mengenakkan untukku.
Diperjalanan menuju kerumah terselip
kejadian lucu, ternyata ojek yang aku naiki salah jalan. Tadinya aku sempat
kesal namun setelah ia berbicara untuk menanyakan jalan yang benar, ia
menggunakan logat bahasa jawa yang tak ku mengerti. Tanpa sengaja aku tertawa
kecil. Namun aku nalar saja maksudnya adalah menanyakan jalan yang benar.
Kejadian tersebut cukup membuat ku geli disaat terik matahari yang kian menusuk
tubuhku.
Sesampainya dirumah kesialan kembali
menerpaku. Ternyata rumahku masih terkunci, tak seorangpun yang berada didalam
rumah dan kebetulan saat itu aku tidak membawa kunci cadangan. Kembali aku
merasa sangat kesal saat itu. Akhirnya aku menunggu untuk beberapa menit sampai
orang tua ku kembali. 10 menit pertama telah berlalu, aku masih duduk di kursi
teras depan rumahku. 10 menit berikutnya pun telah berjalan tanpa kusadari,
lagi-lagi tak kujumpai orang rua ku kembali.
Setelah hamper 40 menit aku menunggu
dengan rasa bosan. Terbesit sekilas dalam pikiranku untuk menghubungi orang tua
ku. Akhirnya aku menghubungi orang tua ku. Aku heran mengapa hal ini tak
terpikirkan olehku sejak tadi, mungkin karena terlalu emosi sehingga hal sekecil
itu tak lagi terpikirkan olehku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar