Selasa, 28 Mei 2013

JENIS-JENIS WACANA






1.             Berdasarkan bentuk saluran yang digunakan
a.  Wacana lisan : merupakan rangkaian kalimat yang ditranskrip (disalin) dalam bahasa lisan.
Contoh : khutbah, siaran langsung acara tv atau radio.
b.  Wacana tulis : teks yang berupa rangkaian kalimat yang menggunakan ragam bahasa tulis.
Contoh : berita koran, artikel, makalah.

2.             Berdasarkan peserta komunikasi
a.  Monolog : Pembicaraan tunggal yang tidak memberikan kesempatan orang lain untuk berbicara atau bertanya (pembicara memiliki kebebasan untuk menggunakan opini, tanpa diselingi mitra tuturnya).
Contoh : pidato, berdo’a, menebus dosa di greja.
b.  Dialog : komunikasi yang dilakukan oleh dua orang dan terjadi pergantian peran.
Contoh : dialog antara penjual dengan pembeli.
c.  Polilog : komunikasi yang dilakukan oleh lebih dari dua orang dan terjadi pergantian peran.
Contoh : diskusi.

3.             Berdasarkan tujuan komunikasi
a.  Wacana deskripsi : jenis wacana yang ditujukan kepada penerima pesan agar dapat membentuk suatu citra (imajinasi) tentang suatu hal. Karangan ini berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut. Biasanya wacana ini banyak digunakan dalam katalog penjualan, dan data-data kepolisian.

Ciri-ciri wacana deskripsi :
-          Penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera.
-          Membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri.
-          Ditandai dengan penggunaan kata-kata atau ungkapan detail atau terperinci.
-          Digunakannya kata-kata yang bersifat evaluatif yang terlalu abstrak.
-          Umumnya menggunakan kata-kata yang bersifat objektif dan menggambarkan sesuatu.
Contoh :
SMA Negeri 1 Kota Sukabumi merupakan SMA tertua di Kota Sukabumi. SMA Negeri 1 Kota Sukabumi lahir pada bulan Oktober 1961.
SMA Negeri 1 mempunyai jumlah murid kurang lebih 1.500 siswa dan mempunyai 4 lapangan, yaitu lapangan basket, lapangan volly, lapangan sepak bola, dan lapangan badminton. Luas Smansa kuarng lebih 3 hektare dan memiliki 37 kelas serta 71 guru mata pelajaran. Smansa juga memiliki kantin yang begitu banyak.
 Ketika bel istirahat berbunyi, kanti di Smansa sangatlah ramai hingga siswa-siswi pun harus berdesak-desakan untuk membeli makanan. kantin Smansa menjual bermacam-macam makanan seperti gorengan, mie ayam, bas juice, dan masih banyak lagi Ketika kantin ini ramai, suasaana pun menjadi sangat panas, berisik dan kotor. Kantin di Smansa sungguh sempit sedangkan muridnya sangatlah banyak, sehingga kantin ini pun menjadi hiruk-pikuk.

b. Wacana Eksposisi : merupakan jenis wacana untuk menerangkan sesuatu hal kepada penerima (pembaca) agar yang bersangkutan memahaminya. Dalam wacana ini, diperlukan proses berpikir. Wacana ini digunakan untuk menjawab pertanyaan “bagaimana”, karena menerangkan proses atau prosedur suatu aktivitas.
Wacana ini isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Contoh : Jatuhnya pesawat berkapasitas 266 penumpang airbus A300- 600 merupakan peristiwa kedua bagi American Airlines beberapa detik lepas landas dari bandar udara internasional O’Hare Chicago, tiba-tiba mesin kiri lepas dari dudukannya. Pilot tidak bisa mengendalikan pesawat akibat keseimbangan pesawat mendadak berubah dengan jatuhnya mesin berbobot sekitar 5 ton. Pesawat mendarat dan menghujam tempat parkir kendaraan 31 detik kemudian dan 271 penumpang plus awak tewas seketika. Kecelakaan lain menyangkut mesin copot dialami oleh pesawat kargo El-Al milik flag carier Israel, 4 Oktober 1992. Mesin nomor empat atau yang paling ujung pada sayap kanan, tiba-tiba lepas akibat dua fuse-pin (baut kedudukan mesin) lepas. Disusul kemudian oleh mesin nomor tiga. Mendadak kehilangan dua mesin, pilot tidak dapat mengendalikan pesawat dan menabrak gedung bertingkat di Amsterdam, Belanda. Empat awak tewas berikut 47 penghuni flat yang ditabrak.
Poin-poin penting dalam wacana eksposisi
-       Data faktual, yaitu suatu kondisi yang benar-benar terjadi, ada, dan dapat bersifat historis tentang bagaimana suatu alat bekerja, bagaimana suatu peristiwa terjadi, dan sebagainya
-       Suatu analisis atau penafsiran objektif terhadap seperangkat fakta
-       Fakta tentang seseorang yang berpegang teguh pada suatu pendirian


c.    Wacana Argumentasi : merupakan jenis wacana yang berusaha mempengaruhi pembaca atau pendengar agar menerima pernyataan yang dipertahankan, baik yang didasarkan pertimbangan logis maupun emosional. Sebuah wacana dikategorikan wacana argumentasi, apabila bertolak dari tanya isu yang sifatnya kontroversi antara penutur dan mitra tutur.
Pengembangan kerangka karangan argumentasi dapat berpola sebab-akibat, akibat-sebab, atau pola pemecahan masalah.
Contoh : Akibat perkembangan perekonomian dan pertambahan jumlah penduduk, komsumsi energi di dalam negeri juga meningkat. Kebutuhan gas di pulau jawa pada tahun 2002 sebanyak 943 juta kaki kubik per hari (MMCFD). Tahun 2005, meningkat menjadi 1,136 MMCFD. Pada tahun 2010, kebutuhan gas di pulau jawa diperkirakan 2.252 MMCFD dan tahun 2015, sebanyak 3,441 MMCFD.

d.   Wacana Persuasi : merupakan wacana yang bertujuan mempengaruhi mitra tutur untuk melakukan tindakan sesuai yang diharapkan penuturnya. Terkadang, wacana persuasi menggunakan alasan yang tidak rasional, misalnya iklan, rayuan.

e.    Wacana Narasi : merupakan jenis wacana yang berisi berita. Wacana ini menceritakan sebuah kejadian secara berurutan berdasarkan waktu kejadian (bisa juga tidak berurutan tapi alurnya kesana-kemari. Narasi dibangun oleh sebuah alur cerita. Alur ini tidak akan menarik jika tidak ada konfiks. Selain alur cerita, konfiks dan susunan kronologis, ciri-ciri narasi lebih lengkap lagi diungkapkan oleh Atar Semi (2003: 31) sebagai berikut:
-       Berupa cerita tentang peristiwa atau pengaalaman penulis.
-       Kejadian atau peristiwa yang disampaikan berupa peristiwa yang benar-benar terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi atau gabungan keduanya.

Contoh :
Kesialanku
            Tepat pukul 11.00 WIB pekan lalu, aku baru pulang dari kuliah. Seperti biasanya aku pulang kerumah naik ojek yang beraa didepan kampusku. Kebetulan saat itu matahari sangat terik-teriknya sehingga hawa panas menyelimuti tubuhku dan lagi ditambah rasa lapar yang sejak tadi menghantuiku, membuat suasana saat itu tak mengenakkan untukku.
Diperjalanan menuju kerumah terselip kejadian lucu, ternyata ojek yang aku naiki salah jalan. Tadinya aku sempat kesal namun setelah ia berbicara untuk menanyakan jalan yang benar, ia menggunakan logat bahasa jawa yang tak ku mengerti. Tanpa sengaja aku tertawa kecil. Namun aku nalar saja maksudnya adalah menanyakan jalan yang benar. Kejadian tersebut cukup membuat ku geli disaat terik matahari yang kian menusuk tubuhku.
Sesampainya dirumah kesialan kembali menerpaku. Ternyata rumahku masih terkunci, tak seorangpun yang berada didalam rumah dan kebetulan saat itu aku tidak membawa kunci cadangan. Kembali aku merasa sangat kesal saat itu. Akhirnya aku menunggu untuk beberapa menit sampai orang tua ku kembali. 10 menit pertama telah berlalu, aku masih duduk di kursi teras depan rumahku. 10 menit berikutnya pun telah berjalan tanpa kusadari, lagi-lagi tak kujumpai orang rua ku kembali.
Setelah hamper 40 menit aku menunggu dengan rasa bosan. Terbesit sekilas dalam pikiranku untuk menghubungi orang tua ku. Akhirnya aku menghubungi orang tua ku. Aku heran mengapa hal ini tak terpikirkan olehku sejak tadi, mungkin karena terlalu emosi sehingga hal sekecil itu tak lagi terpikirkan olehku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar