Untuk saya, saudara-saudari saya, teman-teman saya, maupun orang-orang yang mengenal saya!
Saat membaca buku karya Abdul Chaer, mengingatkan saya dengan percakapan antara saya dengan teman ayah saya. Saya memanggilnya "om". Saat itu beliau bertanya pada saya, "kuliah jurusan apa?". Saya menjawab dengan singkat bahwa saya mengambil jurusan Bahasa Indonesia. Sudah pasti bisa ditebak pernyataan yang akan dikemukakan oleh Om tersebut. Ya...bagi beliau bahasa Indonesia dinilai terlalu mudah. Beliau terus saja menasehati saya, "...kok bahasa indonesia? Kenapa gak ambil yang lain, ato bahasa Inggris gitu? Kamu kan nanti bisa sekalian ngajarin privat anak-anak kecil!! Di Surabaya, ngasih les privat bahasa inggris gitu bayarannya bisa 500.000 loh!". Saya hanya tersenyum...
Iya saya tau om...
Saya bukan mahasiswi jurusan bahasa inggris, saya juga bukan mahasiswi jurusan management, bukan pula arsitektur, komputer, dokter, kesenian, matematika, sejarah, antropologi, psikologi, agama, olahraga dan lainnya...
Tapi, ruang lingkup mata kuliah saya mencakup semuanya.
Ya...seperti inilah buruknya kemampuan berbahasa sebagian besar orang Indonesia, termasuk kaum inteleknya, dikarenakan adanya sifat-sifat negatif yang melekat pada mental sebagian orang Indonesia. Tak bisa dipungkiri, saya pun masih demikian.
Sifat-sifat negatif itu adalah :
1. Suka meremehkan mutu = perilaku "pokoknya mengerti". Bahasa digunakan asal
saja tanpa peduli bahasa itu benar atau salah. Yang penting bahasa bisa dipahami,
dan jika persoalan salah atau benar itu adalah masalah guru atau penyuluh bahasa.
2. Sikap mental menerabas. Tercermin dalam perilaku berbahasa berupa adanya
keinginan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik, tetapi tanpa keinginan
untuk belajar.
2. Sikap tuna harga diri = tidak mau menghargai milik sendiri, tapi sangat menghargai
bahasa orang lain. Terbukti dengan adanya pintu-pintu pada swalayan/pusat
perbelanjaan yang bertuliskan "IN/EXIT".
3. Sikap menjauhi disiplin = malas mengikuti kaidah bahasa.
4. Sikap tidak mau bertanggungjawab = tidak mau memperhatikan penalaran bahasa
yang benar. Seperti kata "Galau" yang dalam kamus bahasa Indonesia yakni sibuk
beramai-ramai, dalam artian bahwa saat ada masalah yang sudah menumpuk/tak
terbendung lagi...barulah dapat dikatakan galau. Sedangkan pada saat ini, "galau"
banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari, seperti apabila tidak tahu akan
mengenakan pakaian apa saat ke kampus atau memilih ingin memakan apa saat ini,
itu dikatakan "galau".
5. Sifat latah atau ikut-ikutan. Dengan selalu mengikuti saja ucapan orang lain yang
sebenarnya secara gramatikal tidak benar. Seperti ungkapan "sesuatu" yang banyak
digunakan untuk sesuatu yang istimewa, aneh, lucu, gak jelas, dan lainnya. Padahal
"sesuatu" berarti wujud yang belum diketahui.
Kita orang Indonesia lantas tidak bangga akan bahasa sendiri? Dan meremehkannya?
Justru tanpa kita sadari bahasa Indonesia, adalah sukar. Terbukti dengan rendahnya nilai UN anak Indonesia. Ckckck...
Coba kita lihat kembali, artis Korea yang datang berkunjung ke negara-negara lain, bahkan Indonesia, mereka lebih banyak menggunakan bahasa resmi negara mereka saat diwawancarai. Bukan karena mereka tak pandai berbahasa Inggris sebagai bahasa Internasional saat ini, justru karena inilah salah satu upaya mereka untuk mengenalkan bahasa Korea kepada Dunia. Terbukti bukan? Nyatanya banyak orang Indonesia pun yang akhirnya mempelajari bahasa Korea.
Jadi, masihkah ingin menyepelekan bahasa resmi Negara sendiri????

Tidak ada komentar:
Posting Komentar