Agama adalah Solusi yang tepat bagi seseorang yang
bermasalah. Penanggulangan masalah moral, sosial, dan kemanusiaan melalui
program berbasis agama adalah solusi paling baik dan tepat untuk dilakukan
dalam kondisi apa pun. Karena agama menjadi faktor penting dalam membangun
watak, kepribadian dan kesalehan bagi umat manusia.[1]
Islam merupakan agama yang universal, maksudnya adalah
ajaran Islam mencakup seluruh aspek kehidupan umat manusia yang berlaku di
setiap tempat dan masa. Islam merupakan agama yang memiliki keseimbangan
orientasi hidup, yaitu kehidupan dunia dan akhirat. Firman Allah :
Tiada Kami mengutus Engkau (Muhammad), melainkan untuk seluruh umat
manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui”[1]
Penamaan Islam sebagai agama, langsung diberikan oleh Allah
melalui wahyu-NYA (Al-Qur’an). Sementara itu, pemberian nama agama lain yang
berkembang di dunia senantiasa diidentifikasikan kepada orang atau tokoh yang
membawa ajaran tersebut, atau daerah tempat agama itu lahir. Islam merupakan
agama yang indah, sehingga untuk memperoleh keindahahn itu, ada beberapa konsep-konsep
dasar untuk lebih mengenal akan agama yang indah ini.
Dalam sebuah
hadist, Umar bin Khattab r.a menyebutkan, bahwa ada seorang lelaki yang datang
menemui Rasululloh yang pada saat itu sedang bersama dengan para sahabat
lainnya. Lelaki yang menemui Rasululloh adalah lelaki yang tak pernah dikenal
sebelumnya, dan tidak ada tanda-tanda bahwa lelaki tersebut telah melakukan
sebuah perjalanan. Lelaki tersebut kemudian duduk disamping Rasululloh, dan
bertanya tentang apa itu Islam, Iman, dan Ikhsan, serta hari kiamat beserta
tanda-tandanya. Dan diketahui setelahnya, bahwa lelaki tersebut adalah malaikat
jibril. Yang datang untuk mengajarkan tentang agama Islam kepada para sahabat
yang hadir disana.
Dari cerita
diatas, pertanyaan yang diajukan oleh jibril kepada Rasululloh tentang Islam,
Iman, dan Ikhsan adalah merupakan tiga konsep dasar dalam agama Islam. Yaitu tentang Islma, Iman , dan Ihsan. Namun dsini
penulis akan membahas mengenai Islam.
· Islam
Dalam hadist diatas, Rasululloh
menjelaskan bahwa Islam tercakup dalam lima cakupan, yang disebut sebagai rukun
Islam. Yaitu :
a.
Bersaksi atas nama
Allah dan RasulNya ( Syahadatain)
b.
Mendirikan sholat
c.
Mengeluarkan zakat
d.
Berpuasa di bulan
Ramadhan
e.
Melaksanakan haji
ke Baitullah, bagi yang mampu.
Islam adalah agama Allah yang diridho’i
disisi-Nya dan yang telah diwahyukan-Nya pada Rasul-Nya, para utusan-Nya yang
mulia serta disampaikan kepada manusia. Islam merupakan agama yang dibawa oleh
Nabi Muhammad dari Tuhannya dengan kepatuhan dalam mengamalkannya dengan tunduk
tanpa syarat, dan kepatuhan ini nampak dari tunduknya manusia kepada Robbul
Alamin dengan tunduk yang sempurna, dan itu merupakan inti daripada Islam.[2]
Sebagaimana firman Allah :
Artinya
: “Pada hari Ini Telah Kusempurnakan
untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah
Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. “[1]
Dan ini semua
adalah syiar-syiar Islam yang tampak. Islam itu sendiri, secara totalitas,
merupakan suatu keyakinan bahwa nilai-nilai ajarannya adalah benar dan bersifat
mutlak karena bersumber dari Yang Maha Mutlak. Dengan demikian, segala yang
diperintahkan dan diizinkan-Nya adalah suatu kebenaran, sedangkan segala
sesuatu yang dilarang-Nya adalah kebatilan.
Islam itu sendiri, secara totalitas, merupakan suatu
keyakinan bahwa nilai-nilai ajarannya adalah benar dan bersifat mutlak karena
bersumber dari Yang Mahamutlak. Dengan demikian, segala yang diperintahkan dan
diizinkan-Nya adalah suatu kebenaran, sedangkan segala sesuatu yang
dilarang-Nya adalah kebatilan.
Di samping itu, Islam merupakan
hukum atau undang-undang (syariah) yang mengatur tata cara manusia dalam
berhubungan dengan Allah (vertikal) dan hubungan antarsesama manusia (horizontal).[2]
Di dalamnya mencakup dua bidang pembahasan, yaitu pertama bidang ibadah mahdah
yang meliputi tata cara shalat, puasa, zakat, dan haji. Kedua,
bidang ibadah ghair mahdah yang meliputi mu’amalat, munakahat,
siyasat, jinayat, dan sebagainya. Sebagai standar dan ukuran dalam
pelaksanaannya merujuk pada hukum yang lima yang disebut Ahkam Al-Khamsah,
yaitu, wajib, haram, mubah, mandhub, dan makruh. Penerapan kelima
hukum tersebut dalam kehidupan sehari-hari memiliki variasi dan pelaksanaannya
bersifat fleksible melalui ijtihad yang disesuaikan dengan perubahan dan
perkembangan zaman. Aspek syari’ah ini disosialisasikan oleh aspek
akhlak yang meliputi cara, tata kelakuan, dan kebiasaan dalam bersosialisasi
dan berinteraksi, baik yang berhubungan dengan ekonomi, politik, berkeluarga,
bertetangga, dan sebagainya.
Di dalam Islam tidak mengenal konsep sekuler. Islam
mengajarkan suatu jalan hidup yang menyeluruh, yang tidak mengecualikan apa pun
juga. Sekularisme merupakan nama dari suatu sistem
etika dan filsafat yang bertujuan untuk memberi interpretasi atau pengaturan
terhadap kehidupan manusia tanpa kepercayaan kepada Tuhan, tidak mempercayai
kitab-kitab suci dan tidak percaya pada haris akhir atau kiamat.
Islam sebagai agama yang sempurna. Kesempurnaannya terlihat
dalam ajaran-ajarannya yang bersifat universal dan fleksible (luas dan luwes)
serta mengharuskan terciptanya keseimbangan hidup antara duniawi dan ukhrawi,
jasmani dan rohani. Sebab, kehidupan duniawi yang baik harus dijadikan media
untuk mencapai kehidupan rohani yang baik. Sebaliknya, kehidupan rohani yang
baik harus dijadikan media untuk memenuhi kehidupan jasmani yang baik, legal,
dan halal serta di bawah ridha Allah. Oleh karena itu, Islam merupakan kekuatan
hidup yang dinamis, juga merupakan suatu kode yang sesuai dan berdampingan
dengan tabiat alam, dan merupakan kode yang meliputi segala aspek kehidupan
insani.
Salah satu ciri yang menonjol dalam
konsep Islam adalah adanya prinsip keseimbangan dan keharmonisan hidup. Islam
adalah agama lahir dan batin, serta agama dunia dan akhirat. Keharmonisan ini
karena Islam sesuai dengan bentuk dan jenis penciptaan alam raya yang menggambarkan
keseimbangan, seperti yang diungkapkan Al-Qur’an dengan istilah Fithrah
karena sifat fithrah itu sendiri adalah seimbang atau harmoni. Langit dan bumi
adalah ciptaan Allah yang seimbang sehingga dapat terjadi harmoni di alam raya,
seperti matahari, bulan, planet-planet yang menjadikan bumi berputar secara
teratur dan melahirkan iklim dan cuaca yang seimbang sehingga layak dihuni
manusia.
Islam mengembangkan kesatuan dan
kesamaan, baik kesetaraan gender maupun ras dan etnik. Oleh karena itu, Islam
sangat membenci diskriminasi gender dan diskriminasi rasial. Konsep persamaan
yang terkandung dalam ajaran Islam melahirkan sikap saling menghargai
(demokrasi) yang menjadi salah satu ciri umat Islam. Menghargai orang lain,
baik fisik, kondisi maupun pendapatnya juga merupakan salah satu ciri dari
demokrasi. Saling menghargai dalam tatanan umat Islam merupakan suatu keharusan
yang menjadi ciri dalam komunikasi sehari-hari.
DAFTAR
PUSTAKA
·
http://www.speaceandmotion.com/religion-islam-muslim-islamic-qur’an.html (04-11-11, pukul:08.34 WIB)
- Al-Qur’an dan Terjemah. Penerbit : Al-Huda, Gema Insani, Bandung.
- Umar Fanani. . Fiqh Dakwah. .
- Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan. Kitab Tauhid : jilid 1. Penerbit : Darul Haq, Jakarta.
[1] Ucapan Prof. Dr. H. Nasruddin Umar, MA (Direktur Jenderal Bimbingan
Masyarakat Islam Departemen Agama RI) dalam sebuah blog :
http://www.speaceandmotion.com/religion-islam-muslim-islamic-qur’an.html (04-11-11, pukul:08.34 WIB)
[2] Dr.Shalih bin Fauzan bin
Abdullah al-Fauzan. Kitab Tauhid : jilid 1. Penerbit : Darul Haq, Jakarta. Hal
: 88.
[1] . Al-Qur’an
dan Terjemah. Penerbit : Al-Huda, Gema Insani, Bandung. Q.S Saba’[34] : 28. Hal : 432.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar